BNPT Sebut 5 WNI Pakai Uang Amal untuk Bantu ISIS

BAACA.ID – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut sebanyak lima warga negara Indonesia (WNI) menjadi penyokong dana untuk ISIS atau Islamic State of Iraq and Syria di Amerika Serikat (AS). Mereka disebut memakai kotak amal untuk mengirim uang ke Negara Islam Irak dan Suriah yang beraktivitas di Indonesia, Suriah dan Turki.

“Ada yang memang dari pengumpulan kotak amal, melalui dana fa’i, melalui infak dari antara mereka atau iuran dari antara mereka,” kata Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Ahmad Nurwakhid, dilansir dari Media Indonesia Kamis (12/5).

Menurutnya terkait sumber dana itu diketahui berdasarkan keterangan dua dari lima pelaku yang telah diproses hukum, yakni Ari Kardian dan Rudi Heryadi. Namun pihaknya sendiri belum mendapatkan penjelasan yang jelas dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Amerika terkait sumber dana ke-5 WNI itu.

Ia menjelaskan saat ini diketahui ada lima sumber dana kelompok teroris di Indonesia. Diantaranya pendanaan yang dilakukan melalui dana infak di antara kelompok mereka, dan juga dana dari penggalangan kotak amal yang termasuk melalui manipulasi dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan.

Adapun teori CSR perusahan itu tidak langsung menyalurkan uang ke jaringan teror, melainkan melalui kelompok radikal karena ketidaktahuan perusahaan membedakan kelompok keagamaan.

“Mereka jaringan teror ini karena ber-casing dengan keagamaan. Misalnya organisasi masyarakat (ormas) atau yayasan keagamaan ataupun kegiatan sosial kemanusiaan dan sebagainya, tapi ternyata banyak juga yang disimpangkan untuk pendanaan teror,” katanya.

Baca Juga:

Sebelumnya, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap lima WNI yang dituding sebagai bagian jaringan fasilitator keuangan Negara Islam Irak dan Suriah yang beraktivitas di Indonesia, Suriah dan Turki. Kelimanya ialah Dwi Dahlia Susanti, Rudi Heryadi, Ari Kardian, Muhammad Dandi Adhiguna dan Dini Ramadhani.

Sementara itu, Menko Polhukam Mahfud MD menyebut pemerintah Indonesia akan terlebih dulu menyelidiki informasi terkait lima orang WNI yang disanksi oleh Amerika Serikat (AS). Sebab kata Mahfud, informasi tersebut masih bersifat mentah dan perlu konfirmasi lebih lanjut.

“Akan kami selidiki dulu kebenarannya. Sampai sejauh ini informasi tersebut masih info mentah ya,” tutur Mahfud kepada wartawan, Selasa (10/5/2022).



Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button