Cara Kerja Sistem Pengapian Elektronik

Baaca.id — Sistem pengapian merupakan rangkaian sistematis yang menghasilkan bunga api pada busi. Percikan ini diperoleh karena adanya loncatan listrik tegangan tinggi yang dihasilkan oleh kumparan.

Cara kerja sistem pengapian elektronik pada sistem pengapian konvensional, sistem beroperasi secara manual menggunakan kontak platina sebagai pemutus arus listrik. Semua komponen dalam sistem pengapian elektronik dioperasikan secara elektronik secara otomatis, memutus arus primer.

Dalam sistem CDI, kapasitor digunakan untuk mengakhiri arus primer, yang biasa digunakan pada motor. Sistem pengapian sering digunakan pada kendaraan yang lebih modern karena beroperasi dengan cara yang sama seperti sistem pengapian transistor tanpa distributor.

Inilah yang membedakan sistem pengapian transmisi dengan sistem pengapian lainnya. Untuk memperjelas apa dan bagaimana sistem pengapian transistor ini, berikut adalah gambarannya. Pusat pembahasan sistem pengapian elektronik (transistor) akan membahas secara detail keunggulan sistem ini dibandingkan dengan sistem lain dan cara kerjanya.

Cara Kerja Sistem Pengapian Elektronik Terbagi Menjadi Dua

Prinsip kerja pengapian transistor (elektronik) pada mobil hampir sama dengan pengapian konvensional, perbedaannya terletak pada cara pemutusan arus primer. Namun, pengapian semi transistor dan pengapian transistor penuh memiliki mode operasi yang berbeda.

Cara Kerja Sistem Pengapian Semi Transistor

Saat kunci kontak menyala, arus dari baterai masuk ke sistem utama, salah satunya adalah sistem pengapian. Arus mengalir masuk dan keluar dari koil pengapian ke unit transistor.

Pada unit transistor, arus dihubungkan ke massa emitor ketika dihubungkan ke kolektor transistor. Ketika kaki dasar terhubung ke sirkuit platinum.

Secara terpisah, arus mengalir ke platina yang terletak di distributor dan ke bagian bawah unit transistor.

Saat mesin tidak hidup, cam pada distributor dalam posisi diam, sehingga platina menutup atau menyambung. Dalam hal ini, kaki dasar akan dialiri arus dari platina yang menyebabkan kolektor dan emitor terhubung.

Arus dari kumparan primer yang terhubung ke kolektor ditransmisikan ke massa melalui kaki emitor. Hasilnya akan menjadi medan magnet di kumparan primer.

Saat mesin berputar, begitu juga cam di dalam distributor. Hal ini menyebabkan platina untuk membuka dan menutup. Ketika platina dalam keadaan terbuka atau terputus, arus yang mengalir ke kaki alas juga terputus. Sehingga kaki kolektor dan emitor juga terputus.

Putusnya hubungan kolektor dan emitor menyebabkan pergerakan medan magnet pada kumparan primer jatuh pada kumparan sekunder. Sehingga terjadi lonjakan tegangan pada kumparan sekunder. Tegangan tinggi dikirim langsung ke busi melalui catu daya.

Baca Juga:

Cara Kerja Sistem Pengapian Transistor Lengkap

Transistor tidak lagi dilengkapi dengan platina untuk pengapian penuh. Komponen ini diganti dengan penyala pulsa.

Plotnya, kunci kontak menyala, arus dari baterai mengalir ke koil pengapian. Keluaran arus dari kumparan primer masuk ke komponen unit transistor keluaran. Ketika output output kumparan sekunder masuk ke busi. Di sirkuit lain, arus dari baterai mengalir ke unit transistor sebagai tegangan referensi di unit transistor.

Saat mesin tidak hidup, penyala pulsa juga tidak merespon karena dalam keadaan diam. Oleh karena itu tidak ada sinyal pulsa dari penyala pulsa yang dikirim ke unit transistor. Hal ini menyebabkan kumparan primer terhubung dengan rangkaian arus, yang menyebabkan medan magnet pada kumparan primer.

Saat mesin mulai berputar, penyala pulsa mengirimkan sinyal PWM dengan frekuensi tergantung pada kecepatan mesin. Kontroler yang berada dalam satu unit dengan transistor akan memproses sinyal terlebih dahulu.

Selanjutnya, ketika sinyal PWM diterima dari penyala pulsa, pengontrol memotong arus di bagian bawah transistor. Ketika basis terputus, arus dari kolektor secara otomatis terputus.

]Oleh karena itu ada pergerakan medan magnet dari kumparan primer ke kumparan sekunder. Hal ini menyebabkan lonjakan tegangan pada kumparan sekunder, yang ditransmisikan langsung ke setiap busi melalui elemen suplai.

6 Komponen Sistem Pengapian Elektronik

Untuk lebih jelasnya berikut ini adalah rangkaian beberapa komponen dalam sistem pengapian transistor yang masing-masing dijelaskan secara bersamaan.

Baterai

Cara kerja sistem pengapian elektronik pada baterai berguna untuk menyimpan dan menyuplai arus listrik. Baterai ini biasa digunakan untuk kebutuhan listrik kendaraan bermotor.

Transistor Unit

Tinjauan sebelumnya menemukan bahwa transistor unit berguna sebagai komponen utama untuk memutuskan arus primer.

Ignition Coil

Fungsi utama dari komponen ini adalah untuk menaikkan tegangan secara otomatis. Biasanya tegangan target hingga 20 volt. Elemen ini ditenagai oleh induksi elektromagnetik, pada koil dengan banyak putaran sekunder, yang pada gilirannya mempercepat munculnya efek step-up.

Fully Transistor

Sebuah elemen yang mendeteksi waktu pengapian, yang dikenal sebagai transistor penuh atau penyala pulsa dalam sistem pengapian elektronik. Dalam hal ini, detektor waktu menghasilkan sinyal PWM, yang digunakan untuk menentukan arus basis di transistor.

Cara kerja full transistor adalah prinsip elektromagnetik, dimana terdapat magnet konstan di dekat motor yang dihubungkan dengan putaran mesin. Dari sini gigi motor yang berputar mesin akan memotong GGM dari magnet, sehingga menghasilkan sinyal PWM.

Distributor

Seperti pengapian konvensional, distributor juga merupakan komponen penting karena bertanggung jawab untuk mensuplai daya tegangan tinggi dari kumparan sekunder ke setiap busi dalam urutan penyalaan.

Busi

Komponen terakhir dalam sistem pengapian elektronik adalah busi. Busi ini berguna untuk menyebarkan api di dalam silinder saat terjadi kompresi. Dalam hal ini daya tegangan tinggi disuplai dari kumparan sekunder busi melalui elektroda-elektroda di dalam busi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button