Cukai Rokok Naik di 2022, Ekonom Ramal Bakal Ganggu Pemulihan Ekonomi

Baaca.id, MAKASSAR – Rencana pemerintah menaikkan cukai hasil tembakau (CHT) dinilai bisa merusak skenario pemulihan ekonomi. Kenaikan di 2022 dipandang terlalu terburu-buru.

“Terlalu terburu-buru. Karena sebenarnya ekonomi belum pulih meski kita bisa bebas dari pandemi di akhir tahun. Kita butuh waktu lebih panjang,” terang analis ekonomi Sjamsul Ridjal, Kamis (23/9/2021).

Sjamsul menjelaskan, kenaikan CHT tak mendesak. Karena ini bukan sektor penyangga utama pajak negara.

CHT hanya dipakai sebagai indikator penyeimbang pendapatan negara. Seharusnya kata Sjamsul, pajak sektor ini tak dipaksakan naik karena momentum pemulihan ekonomi sedang berlangsung.

“Tentu ada kekhawatiran terjadi guncangan di industri ini. Termasuk di kelompok petani tembakau. Kalau itu goyah, bisa terjadi PHK. inikan masalah sosial lagi yang muncul,” jelasnya.

Sjamsul juga menjelaskan, cukai rokok erat kaitannya dengan petani tembakau. Setiap kali CHT naik, petani tembakau selalu mengalami degradasi harga.

Posisi mereka dilematis. Saat mereka memaksakan harga naik mengikuti CHT, pemasaran anjlok. Di sisi lain, jika tak dinaikkan, petani akan mengalami kerugian besar.

“Sementara pemerintah kan hanya memikirkan pendapatan pajak. Faktor psikologinya mereka lupa. Karena itu kenaikan CHT harus ditunda,” imbuhnya.

Sebelumnya pengusaha dari berbagai sektor merespons rencana pemerintah menaikkan kembali cukai hasil tembakau (CHT) di 2022. Kenaikan ini diramal bakal memberi ekses multisektor.

“Efeknya pasti ada. Karena sebenarnya kenaikan ini timingnya kurang tepat,” jelas Sofyandi Alam, importir bahan pokok, Sabtu (18/9/2021).

Menurut Sofyan, saat ini ekonomi masih terdampak pandemi. Efeknya pasti akan terlihat hingga tahun depan.

Sehingga kenaikan CHT bisa memberi imbas balik yang serius di sektor lain. Mau tidak mau kata Sofyan, industri yang mempekerjakan banyak orang selalu berdampak luas jika terjadi kemunduran.

Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Budidoyo juga mengakui hal itu. Ia mengatakan, kenaikan CHT tidak mempertimbangkan kepentingan petani dan pelaku di industri tembakau.



Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button