Diberhentikan Sebagai Pj Wali Kota Makassar, Prof Yusran: Saya Diganti Bukan Karena Lambat Tangani Covid-19

Baaca.id, MAKASSAR Mantan Wali Kota Makassar, Profesor Yusran Jusuf, telah memberikan pernyataan terkait dirinya diberhentikan menjabat sebagai penanggung jawab (PJ) Wali Kota Makassar.

Prof Yusran menegaskan, bukan karena lamban dalam menangani penyebaran Covid-19 di Kota Daeng -julukan Makassar.

“Jadi, saya diganti bukan karena (lambat tangani) Covid,” kata dia, saat diwawancara Rijal Djamal, pada video podcast yang diunggah pada, Senin (19/4/2021) kemarin.

Profesor yang lahir di Kabupaten Maros itu mengatakan, saat menjabat menjadi Pj Wali Kota Makassar, dirinya telah menyiapkan banyak hal untuk menangani Covid-19 di Kota Daeng. Termasuk mengajak berbaga kalangan untuk bersama-sama menangani virus yang bermula dari Wuhan, Cina itu.

“Semua komunitas kemarin (ingin diajak), saya sudah buat senam sehat, sudah buat media edukasi,” tukasnya.

“Kita juga bahkan sudah berkolaborasi dengan perguruan tinggi kesehatan, termasuk kita sudah mendorong untuk memanfaatkan obat-obatan tradisional, dan alhamdulillah sudah diadopsi Kementrian Kesehatan, (padahal) Makassar yang pertama sebetulnya,” sambungnya kemudian.

Sebagaimana diketahui, Prof Yusran menggantikan PJ sebelumnya, yakni M Iqbal Suaeb. Setelah itu, Prof Yusran menjabat sebagai PJ Wali Kota Makassar hanya 43 hari saja.

Dia langsung digantikan oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Sulsel, Prof Rudy Djamaluddin.

Dalam kesempatannya, Prof Yusran menjawab opini banyak orang, bahwa dirinya diberhentikan karena ada kepentingan politik.

Prof Yusran mengatakan, dirinya saat itu sebagai PJ Wali Kota Makassar merasa wajib dan perlu untuk dekat ke semua kalangan. Temasuk para politisi di berbagai partai.

Namun, jika itu dikatakan ada kepentingan ‘politik’, dia mengatakan, “itu urusan lain.” Dia hanya menjalankan tugas sebagai PJ Wali Kota Makassar yang ingin membangun komunikasi terhadap semua kalangan.

“Kepala daerah itu harus dekat sama semua partai, temasuk komunitas-komunitas. Persoalan ada yang menganggap tidak tepat, itu urusan lain,” sebutnya.

Profesor dari kampus Unhas itu mengatakan, meski hanya 43 hari menjabat sebagai PJ Wali Kota Makassar, dirinya tetap bersyukur mendapat pengalaman tersebut.

“Walau hanya 43 hari, itu sudah luar biasa bagi saya,” pungkasnya. (Efrat)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button