Efek Pandemi, Investasi Properti Baru akan Pulih di 2022

Baaca.id, MAKASSAR – Masyarakat masih memilih menahan rencana investasi pada sektor properti. Kondisi ini membuat prospek properti terus melempem.

“Masyarakat menahan duit. Masih banyak yang memilih tak berinvestasi pada properti,” ujar Mahmud Syamsuri, konsultan properti dalam analisis yang disampaikan, Sabtu (4/9/2021).

Kata Mahmud, masyarakat sangsi karena situasi ekonomi belum menentu. Naik turunnya pandemi membuat mereka memilih menyimpan uang ketimbang berinvestasi.

“Investasi emas saja menurun. Properti juga belum pulih. Karena uang tunah dianggap lebih penting. Ini akan membaik setelah efektivitas vaksin terlihat,” katanya.

Menurut Mahmud, tingkat transaksi properti menurun hampir 40%. Pada April dan Mei sempat membaik tapi kembali jatuh pada Juli lalu.

Relaksasi KPR tak banyak memberi sentuhan. Butuh kebijakan yag lebih sentralistik agar sektor ini lebih bergairah.

Pada Mei lalu, industri otomotif mulai bergerak naik setelah berbagai stimulus digulirkan. Tapi sektor properti tetap saja morat-marit akibat resesi sejak November silam.

Benyamin Halim, konsultan properti Sulsel menyebutkan, ada perbedaan antara properti dan otomotif. Otomotif cenderung lebih cepat bangkit karena tingkat kebutuhan yang lebih besar.

Sementara investasi properti lebih terkesan melambat karena berbagai faktor. Salah satunya kata Bunyamin, tidak banyak stimulus yang mengiringi di sektor pemasaran.

“Beda dengan otomotif ada berbagai kelunakan dalam penjualan. Saya kira dari sisi perbankan ada sedikit kerumitan untuk kepemilikan properti. Beda otomotif, lebih simpel,” paparnya.

Zaenal Abidin, pengusaha real estate menilai masyarakat masih memilih menahan dana mereka di tengah situasi pandemi yang tak menentu. Akibatnya, properti skala menengah belum dilirik.

“Saya kira ada harapan untuk membaik di akhir tahun. Yang penting situasi pandemi membaik,” katanya.

Para ekonom juga meramal Indonesia akan sulit memulihkan kinerja ekonomi hingga kuartal akhir 2021. Proyeksi pertumbuhan ekonomi masih akan di bawah rata rata karena sektor sektor penyangga ekonomi belum normal.

 



Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button