Hati-hati! Pupuk Palsu Marak Beredar, Mirip dengan Aslinya

Baaca.id, JEMBER — Saat ini, pupuk palsu marak beredar di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Hal ini dinilai sangat meresahkan petani.

Informasi yang diterima mnyebutkan, pupuk palsu yang beredar ini bentuk kemasannya mirip dengan yang asli. Maka dari itu, petani harus benar-benar pandai dan berhati-hati saat memilih pupuk.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember, Jumantoro mengatakan, jika petani tidak berhati-hati dan waspada, maka pupuk abal-abal atau pupuk palsu itu bisa saja terbeli dan terpakai. Tentunya hal ini menyebabkan hasil pertanian merugi.

Menurut Jumantoro, saat ini, alokasi pupuk subsidi dari pemerintah dibatasi, hanya 50 persen saja. Sehingga, para petani dianjurkan menggunakan pupuk nonsubsidi.

“Pupuk subsidi bukannya langka, tapi mengalami alokasi yang terbatas. Sehingga kondisi sekarang kurang dan buat petani menderita. Petani dianjurkan menggunakan pupuk nonsubsidi. Nah, saat memakai pupuk nonsubsidi, jika petani tidak waspada dan hati-hati, maka jatuhnya malah dapat pupuk abal-abal (palsu),” ungkap Jumantoro, baru-baru ini.

Dengan kondisi terbatasnya pupuk subsidi ini, Jumantoro memberikan saran agar harga pupuk dinaikkan saja. Tentunya dengan haarga yang wajar. “Biar mahal sedikit yang penting alokasinya cukup,” katanya.

Selain kondisi terbatasnya alokasi pupuk subsidi yang menjadi momok bagi para petani di Jember adalah cuaca ekstrem dan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) hal ini bisa membuat petani gagal panen.

“Kami berharap pemerintah dapat memberikan perhatian,” harap Jumantoro.

Perlu diketahui, dari data yang dihimpun wartawan, untuk pupuk jenis urea dalam setahun petani di Jember mendapat subsidi kurang lebih 90 ribu ton. Namun kondisi saat ini, oleh pemerintah dikurangi menjadi kurang lebih 50 persen.

Contohnya, untuk realisasi dari Januari sampai 25 Oktober atau kurun waktu setahun, petani di Jember hanya mendapat kurang lebih 53.136 ton. Saat ini sudah terealisasi 46.584 ton atau 88 persen, namun hal itu masih dirasa kurang oleh petani. (#)



Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button