Ini Ramalan Jika Indonesia Dihantam Gelombang 3 Corona

Baaca.id, JAKARTA – Kasus Corona terus melandai seiring menyusutnya peta penyebaran. Namun Indonesia diperkirakan belum di akhir pandemi. Masih mungkin ada gelombang baru.

Angka positivity rate kini di level 1,31 persen. Diperkirakan dalam sebulan ke depan, wilayah zona merah akan berkurang lebih banyak.

Para pakar meminta kondisi ini diwaspadai. Apalagi setelah ditemukannya varian baru Corona bernama Mu.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, kuncinya adalah disiplin prokes. Kata dia, gelombang Corona bisa datang lagi jika pemerintah dan masyarakat lengah.

“Kalau kita tidak disiplin dengan prokes, ini bisa menjadi gelombang baru. Kita semua dituntut waspada,” jelas Luhut.

Dalam pertemuan pekan lalu Luhut menjelaskan, gelombang pertama Covid terjadi lebih dari 12 bulan pada Maret 2020 hingga April 2021. Angka kasus dalam rentang waktu itu mencapai 2 juta.

Gelombang kedua datang saat varian Delta muncul pada awal April 2021. Ledakan varian Delta menyerang Indonesia sebulan usai memporak-porandakan India.

Gelombang kedua hanya berlangsung sekitar 6 bulan, namun menoreh peta penyebaran paling ekskalatif. Yakni mencapai 2 juta kasus.

Sejak ledakan varian Delta, Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan angka kematian harian tertinggi di dunia. Indonesia pernah menyentuh rekor 2.000 lebih kematian pada Juli lalu. Rekor ini mengungguli India dan Brasil.

Memasuki Agustus, angka Corona mulai jinak. PPKM selama 6 pekan berhasil menekan mobilitas warga dan melokalisasi penularan. Jawa Bali mulai melandai.

Tersisa beberapa provinsi di Sulawesi dan Kalimantan yang belum terkendali. Peta penyebaran zona merah juga berkurang lebih dari 30% dibanding Juli lalu.

“Ini capaian yang menggembirakan. Tapi jangan lengah karena ancaman belum berakhir,” paparnya.

Menurut Luhut, kondisi ini bisa kembali. Bahkan lebih buruk, jika kedisiplinan prokes menurun. Karena itu ia mengajak masyarakat agar tetap patuh pada protap yang diatur dalam PPKM.

“Kalau tidak, kita akan menghadapi gelombang baru yang mungkin lebih dahsyat,” jelasnya.

Luhut mengajak masyarakat sama sama menjaga kondisi ini. Di antaranya dengan mempertahankan kedisiplinan prokes, membatasi interaksi dan menghindari aktivitas yang berpotensi menimbulkan kerumunan.

“Keselamatan harus menjadi yang utama. Dan itu hanya bisa dicapai jika semua kompak,” imbuh Luhut.

 



Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button