Jokowi Serukan Cintai Produk Dalam Negeri, Eh, Pemerintah Malah Akan Impor Beras

Baaca.id, JAKARTA — Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) pernah menyerukan benci produk asing. Pernyataan itu ia sampaikan saat berkampanye mendukung perekonomian dalam negeri beberapa waktu lalu.

“Ajakan-ajakan untuk cinta produk-produk kita sendiri. Produk-produk Indonesia harus terus digaungkan, produk-produk dalam negeri. Gaungkan juga benci produk-produk dari luar negeri,” seru Jokowi dalam pidato pembukaan raker Kementerian Perdagangan, Kamis (4/3/2021) lalu.

Namun belakangan, pemerintah justru mewacanakan akan melakukan impor beras sebanyak 1 juta ton. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto beralasan, hal itu untuk terus menjaga stok beras nasional.

Dipaparkan, impor beras sebesar 1 juta ton itu terbagi dua. Yakni, 500 ribu ton untuk kebutuhan Badan Urusan Logistik (Bulog) dan 500 ribu ton untuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Sekaligus untuk bansos selama masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

“Pemerintah juga melihat bahwa komoditas pangan itu menjadi penting, sehingga salah satu yang penting adalah penyediaan beras dengan stok 1-1,5 juta ton,” terang Airlangga seperti dikutip dari Kontan, Sabtu (6/3/2021)

Bulog rencananya akan menyerap gabah setara beras 900 ribu ton saat panen raya Mare-Mei 2021. Pada Juni-September Bulog akan kembali membeli gabah setara beras 500 ribu ton

Sebelum pengumuman ini, beras impor asal Vietnam telah beredar di Pasar Induk Beras Cipinang. Beras impor ini berharga Rp9 ribu per kilogram, lebih murah dari beras lokal.

Harga eceran tertinggi (HET) beras medium dan premium masing-masing dipatok Rp 9.450 dan Rp 12.800 per kg untuk wilayah Jawa, Lampung, dan Sumatra Selatan.

Terkait, Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI), Dwi Andreas menyatakan, hasil panen petani lokal sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Tahun 2021 ini tidak perlu impor beras karena stok memadai dan produksi naik. Lalu alasannya apa untuk mengimpor beras,” kata Dwi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan, potensi luas panen dan produksi beras pada Januari-April 2021 meningkat sekitar 26 persen dari tahun lalu. Produksi beras akan mencapai 14,54 juta ton pada periode ini.

“Kalau sekarang ini wacana impor beras ini dimunculkan. Kasihan petani karena harga gabah bulan Februari itu sudah drop jauh,” jelas Dwi.

Ia mengungkapkan, harga gabah kering panen (GKP) di pusat produksi sudah turun dari Rp4.600 per kg menjadi Rp3.995 per kg. Harga ini nampaknya akan turun lebih rendah lagi saat panen raya Maret-April.

“Harga gabah tu sudah jauh di bawah biaya produksi, biaya produksi berdasarkan survei kami tahun 2019 itu sudah Rp 4.523. Jadi tidak bijak wacana impor disampaikan saat ini,” kata Dwi.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan, rencana impor ini telah disepakati dalam rapat koordinasi terbatas, Kementerian Perdagangan bahkan telah mengantongi jadwal impor beras tersebut.

Menurut dia, impor beras akan digunakan untuk menambah cadangan atau pemerintah menyebutnya dengan istilah iron stock.

“Iron stock itu barang yang memang ditaruh untuk Bulog sebagai cadangan, dia mesti memastikan barang itu selalu ada. Jadi tidak bisa dipengaruhi oleh panen atau apapun karena memang dipakai sebagai iron stock,” jelas Lutfi. (*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button