Kasihan! Tak Digaji, Sembilan ABK Sudah Enam Bulan Telantar di Pelabuhan Guam Amerika Serikat

Berharap Bantuan Pemerintah RI

Baaca.id — Sungguh malang nasib sembilan orang anak buah kapal (ABK) asal Jawa Timur ini. Mereka sudah enam bulan telantar di Port Comercial pasifik, Guam, Amerika Serikat.

Kesembilan ABK itu adalah Agus Brigrianto selaku Kapten, Bambang Suparman, Ali Akbar Cholid, Gunawan Soeharto, Dicky Wahyu, Fajar Nur, Muhamad Khafid, Fery Sujatmiko dan Yusman Shobirin.

Kesembilan orang ini merupakan ABK Voyager. Mereka mengaku tidak digaji selama 5 bulan, bahkan tidak dipulangkan. Kini, hidup mereka terkatung-katung.

Salah seorang ABK, Ali Akbar Cholid mengaku, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dia dan temannya mengandalkan bantuan dari agensi. Kata dia, selama ini mereka dilarang menyentuh daratan, sehingga terpaksa hidup di atas kapal.

Ali yang merupakan warga asal Jalan Panderman, Kelurahan Sisir, Kecamatan/Kota Batu itu mengaku dirinya dan teman-temannya belum mendapat gaji selama 5 bulan.

“Kami tak bisa pulang karena tidak ada uang. Gaji juga tak diberi. Makan saja mengandalkan pemberian agensi yang ada di pelabuhan sini,” keluh Ali, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (28/10/2021).

Sampai saat ini, dirinya mengungkapkan kesulitan dan hanya bisa berdiam diri dan menunggu ketidakjelasan di atas kapal.

“Kami sudah melapor ke KJRI yang berada di Los Angels karena Guam masuk wilayah AS. Tapi petugas tidak ada kabar dan menjawab bila tidak hanya mengurusi kami saja. Masih banyak yang lain,” ungkap dia.

Ali bercerita, pada April ia mendapat penawaran dari agen Indonusa yang berada di Benoa, Bali. Mereka pun berangkat dari Benoa untuk menjual kapal Voyager milik warga Kanada. Lalu pada Juni ia baru sampai sana, tetapi kapal yang dia tumpangi tidak jadi laku.

“Karena tak jadi laku itu akhirnya pemilik beralasan tak bisa memberi gaji dan tak bisa memulangkan saya dan teman-teman lain. Padahal kalau sesuai jadwal pulang kami ya bulan Juli akhir kemarin,” bebernya.

Padahal, lanjut Ali, perjanjian awal mereka hanya dua minggu saja di Guam, lalu diberi gaji dan pulang.

“Ini merupakan pengalaman pertama meski saya sudah beberapa tahun menjadi ABK. Akibat peristiwa ini pun saya tidak bisa menyaksikan saat istri saya melahirkan. Sampai sekarang belum ketemu sama putra saya,” tutur dia.

Dia pun berharap kepada Pemerintah RI, dalam hal ini KJRI atau pemegang otoritas membantu mereka untuk pulang kembali ke Indonesia. (#)



Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button