Kasihan! Tak Punya Rumah, Seorang Ayah dan Dua Putrinya Tinggal di Poskamling

Baaca.id, JEMBER — Sungguh mengharukan nasib Mohammad Solehuddin. Warga Jalan Slamet Riyadi, Kelurahan Baratan, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, Jawa Timur ini tinggal di poskamling bersama dua putrinya, Salsabila Putri Aini (9) dan Zahra Fitriyani (8).

Soleh terpaksa memilih tinggal di poskamling berukuran 3×2,5 meter ini karena tidak memiliki rumah. Sebelumnya, dia bersama dua putrinya tinggal berpindah-pindah di emperan toko.

Soleh mengisahkan, sebelum menikah, dia tinggal di Sukowono. Namun, setelah ibunya meninggal, dia memilih merantau ke Bali karena ayahnya menikah lagi dengan perempuan lain di wilayah Kecamatan Patrang.

Saat mengadu nasib di Bali, tepatnya tahun 2012, dia bertemu dengan perempuan bernama Halimah Indrasari. Mereka pun lalu menikah. Di Bali, Soleh dan istrinya bekerja serabutan.

“Istri saya melahirkan anak pertama, Putri. Selisih setahun lahir anak kedua, Rara,” ungkap Soleh.

Namun sayang, sekitar tahun 2020 lalu, istri Soleh meninggal. Istri Soleh menjadi korban tabrak lari. “Karena terpuruk, saya pun memilih pulang ke Jember dan bermaksud tinggal dengan ayah kandung saya,” katanya.

Saat pulang ke Jember, ibu tiri Soleh dikenal keras, bahkan ayah kandungnya takut dengan istrinya. Akhirnya Soleh dan kedua anaknya tinggal mandiri.

“Bapak kan tinggal dengan istri barunya, ibu sambung saya. Tapi karena takut mungkin, jadi saya memilih cari tempat tinggal sendiri. Akhirnya menemukan poskamling ini, dan izin warga. Alhamdulillah saya diizinkan karena kasihan. Asalkan tempatnya rajin dibersihkan,” ungkapnya.

Poskamling yang ditempati Soleh dan kedua anaknya hanya selisih satu gang dengan rumah ayah kandungnya.

Untuk menyambung hidup, Soleh bekerja serabutan sebagai tukang cat mobil di sekitar Kecamatan Arjasa dan terkadang menjadi tukang bangunan. Selain bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup, Soleh juga membuat layangan.

“Hasilnya lumayan, satu layangan saya jual Rp1.000. Jadi bisa buat beli makan atau untuk beli mi goreng makanan anak-anak. Kalau tidak punya uang, Alhamdulillah warga sekitar peduli dan saya biasanya ngebon di warung tetangga,” katanya.

Karena penghasilan belum menentu, maka kedua putri Soleh sudah lama tidak bersekolah. (#)



Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button