Kata-kata Nasihat Terbaik Buat Para Jomlowers di Luar Sana

Baaca.id — Jika Anda adalah seorang yang berusia 20-an atau bahkan lebih, dan sampai saat ini Anda masih belum menikah, atau bahkan belum memiliki pasangan pengisi kekosongan, maka Anda perlu membaca kata-kata nasihat di bawah ini. Bisa jadi, cerita hidup Anda akan mulai mengalami perubahan, tanpa disadari.

Kata-kata nasihat ini, bukan berasal dari pengalaman pribadi penulis, ataupun menyontek dari literatur yang beredar di pasaran. Namun, ini adalah sesuatu yang kebanyakan tidak disadari oleh masyarakat Indonesia.

Karena mereka hanya mengikuti apa yang sudah diajarkan oleh para pendahulunya, untuk kemudian diteruskan kepada para penerusnya. Salah satunya adalah urusan menikah di usia muda, di usia 20-an, bahkan awal 20-an.

Penasaran dengan kata-kata nasihat tersebut? Langsung saja kita simak yang satu ini:

Single Itu Tidaklah Buruk

Banyak orang yang memberi label negatif kepada seseorang yang masih berstatus single, terutama kepada mereka yang berusia 20-an keatas.

Tapi, jangan salah. Seorang single sejati justru hidupnya akan lebih bahagia, ketimbang yang sudah berpasangan apalagi yang sudah menikah. Karena mereka memiliki kebebasan, untuk menentukan mau kemana mereka pergi, jam berapa mereka tidur, apa yang akan mereka makan, dan sebagainya.

Sebaliknya, jika sudah berpasangan atau sudah menikah, maka kebebasan Anda jelas akan terusik. Apa yang Anda mau, harus atas persetujuan pasangan. Kalo pasangan mengiyakan sih mungkin tidak akan jadi masalah.

Lantas bagaimana kalo keinginan kita itu ditolak? Bisa jadi berantem adalah menu utama dalam hubungan Anda.

Karena memang pada umumnya, banyak orang terburu-buru untuk mencari pasangan atau menikah terlalu cepat, tanpa melihat kecocokan antara mereka berdua. Mereka hanya mengAndalkan satu faktor, yakni perasaan, sebagai generator utama yang mendekatkan mereka.

Sayangnya, berpasangan itu tidak hanya soal perasaan. Bahkan sebenarnya, perasaan itu hanyalah sekitar 10-20% saja dalam esensi suatu hubungan, dan itu pun urutannya ada di paling akhir, bukan yang paling awal.

Kapan Nikah? It’s My Own Business

Kata-kata nasihat selanjutnya adalah, beranikan diri Anda untuk tidak menjawab setiap pertanyaan orang lain. Apalagi untuk urusan nikah.

Seperti yang sudah dituliskan di atas, orang-orang hanya mengikuti tradisi yang sudah dilakukan oleh para pendahulunya, begitupun dalam urusan pernikahan.

Karena sudah berlangsung secara turun-temurun, hal itu kemudian dianggap sebagai sesuatu yang biasa, dan parahnya juga dianggap benar, sepanjang masa.

Menikah atau tidak, dan kapan waktunya tiba, itu adalah urusan personal setiap insan. Bukan kepentingan orang lain untuk menanyakan apalagi mencampuri kehidupan mereka.

Ya, kecuali jika para jomlowers benar-benar membutuhkan uluran tangan dari mereka. Untuk dibantu mencarikan jodoh, mungkin. Tapi, yakinlah, tidak banyak orang yang bersedia melakukan itu.

Lalu apa jawaban yang tepat jika ditanya demikian? Cukup jawab dengan elegan, “Ya, kamu lihat saja nanti”.

Baca Juga:

Mulai Kenali Dirimu Sendiri

Nasihat berikutnya, mungkin jauh dari kesan untuk mencari pasangan. Karena ini bukanlah tulisan tentang bagaimana caranya mendapatkan pasangan.

Di sini Anda harus benar-benar mengenali diri Anda sendiri. Maksudnya bagaimana? Ya, Anda harus tahu siapa diri Anda sebenarnya, tujuan hidup Anda kemana, mau ngapain, lalu caranya gimana.

Dan juga cari tahu apa yang Anda sukai, apa yang membuat Anda bersemangat, apa yang membuat Anda merasa malas melakukan sesuatu, dan visualkan secara rinci mengenai tujuan hidup Anda ke depannya, mungkin lima sampai sepuluh tahun lagi.

Intinya, berilah banyak pertanyaan ke diri Anda sendiri, supaya Anda bisa mengenali diri lebih jauh. Dengan itu, Anda akan punya visi yang lebih jelas, mengenai apa yang ingin dituju di kemudian hari.

Selama ini, kita memang terlalu berfokus kepada hal-hal yang berhubungan dengan orang lain. Semisal bersosialisasi lah, berteman dengan banyak orang lah, sampai dengan berpasangan itu sendiri.

Bukan berarti itu sesuatu yang buruk. Hanya saja, 24 jam waktu kita dalam sehari rasanya sudah sesak dengan kebutuhan menyenangkan orang lain, tanpa pernah menyempatkan diri untuk menyenangkan diri sendiri.

Jika Anda sudah memiliki pasangan, tentunya waktu untuk diri sendiri atau biasa disebut “Me time” akan jauh berkurang, bahkan bisa dipastikan hampir tidak ada. Apalagi kalau sudah ditambah dengan kehadiran anak. Wah, tujuan hidupmu bisa kacau jadinya.

Karena investasi ke diri sendiri juga tidak kalah pentingnya, selain investasi untuk mendapatkan dan membina hubungan dengan orang lain.

Berpasangan Itu Ibarat Bonus

Jika Anda sudah cukup menginvestasikan waktu, tenaga, dan pikiran Anda untuk diri sendiri, maka kata-kata nasihat berikutnya ialah, jadikan momen memiliki pasangan itu sebagai bonus.

Kenapa memiliki pasangan dianggap sebagai bonus? Ya tentu saja. Karena itu adalah hasil dari aktualisasi diri alias “Me time” yang telah kita lakukan, sehingga membuat kita mampu memvisualisasikan setiap hal yang ingin dicapai di masa depan.

Me time” bukan berarti semacam “Taubatan nasuha” atau sesuatu yang hanya dilakukan satu kali, sehingga dapat mengubah hidup secara drastis. Me time bisa dilakukan setiap hari, setiap saat, dan sifatnya juga dinamis.

Karena pertanyaan yang diajukan juga akan terus berkembang seiring waktu. Pertanyaan yang diajukan hari ini ke diri sendiri, akan berbeda dengan pertanyaan di tahun depan, dua tahun lagi, lima tahun lagi, dan seterusnya.

Kecuali jika lima tahun ke depan Anda masih sama dengan hari ini..

Setelah Anda menjadi pribadi yang lebih baik dan mengenal diri sendiri seutuhnya. Otomatis Anda sudah memiliki gambaran, terkait kapan waktu yang tepat untuk mulai serius berpasangan. Dan Anda pasti akan mencari tahu jawabannya, sekaligus mengusahakannya supaya bisa terwujud. Iya kan?

Hidup Akan Terombang-ambing, Jika Terus-terusan Ikuti Apa Kata Orang

Katakanlah saat ini Anda mengikuti kemauan keluarga besar Anda, untuk segera menikah di awal umur 20-an. Itupun pasangan Anda juga dipilihkan oleh keluarga besar, bukan atas kemauan Anda sendiri. Yang penting mah ikutin tradisi supaya cepat nikah gitu.

Apa yang akan terjadi? Ya bisa saja sih, Anda akan merasa bahagia dengan pilihan dari keluarga besar tadi. Tapi hampir dipastikan, Anda akan sulit menemukan kebebasan, karena sebagian besar hidup Anda akan banyak tercurahkan kepada pasangan Anda, yang mungkin saja belum Anda kenali luar-dalamnya.

Karena keluarga besar juga kemungkinan tidak tahu selera Anda. Yang mereka tahu hanyalah mengikuti tradisi, yang pelan-pelan sudah mulai ketinggalan jaman, dan tidak bisa lagi diterapkan kepada generasi sekarang.

Akhirnya, Anda mulai merasa tidak nyaman dengan pasangan Anda karena satu dan lain hal. Sering ribut, berselisih paham, diem-dieman, atau bahkan pisah ranjang, lebih banyak mewarnai hari-hari Anda bersama pasangan Anda.

Keluarga besar yang tadinya memilihkan si dia untuk Anda, apakah akan peduli? Bisa jadi tidak, karena mereka juga punya kehidupan dan masalah mereka sendiri.

Sekalipun mereka menaruh rasa peduli, bisa dipastikan mereka hanya memberikan nasihat-nasihat kuno yang sudah usang, tanpa tahu duduk permasalahan yang sebenarnya. Ya, kecuali kalau keluarga besar Anda adalah psikolog atau memiliki latar belakang serupa, mungkin bisa lain ceritanya.

Itu saja baru dari keluarga besar. Bagaimana dengan teman-teman, tetangga, sahabat, atau bahkan followers yang Anda punya di media sosial? Mereka pasti punya unek-unek tersendiri tentang hidup Anda, yang pastinya pengin diturutin semuanya.

Satu hal yang mesti Anda tahu, We cannot make everybody happy! Ya, Anda tidak dapat membuat semua orang 100% senang kepada Anda. Pasti akan ada yang tidak suka, benci, bahkan sangat membenci kita, di circle pergaulan manapun yang Anda ikuti

Padahal ada satu orang, yang mestinya Anda bahagiakan paling awal, siapa lagi kalau bukan diri Anda sendiri. Dan itu mutlak tidak bisa ditawar-tawar oleh apapun juga.

Setelah itu barulah Anda mulai berpikir untuk menyenangkan orang lain juga, bisa dimulai dari pasangan Anda (jika sudah memiliki pasangan), atau orang tua Anda, teman-teman, followers di sosial media, dan seterusnya. Tergantung dari konteks dan situasi yang terjadi pada saat itu.

Baiklah, sekian dulu kata-kata nasihat terkait masalah per-jomlo-an, yang solusinya sangat jauh dari masalah utamanya. Karena memang bukan itu cara mengatasinya. Semoga bermanfaat.

Related Articles

Back to top button