Ziarah Sarat Makna di Makam Sultan Hasanuddin

Baaca.id — Jika anda berkunjung ke makam Sultan Hasanuddin, anda akan menemukan banyak pelajaran berharga. Tidak hanya tentang aspek kepahlawanan semata, melainkan beberapa aspek menarik lainnya, yang akan dibeberkan dalam ulasan di bawah ini.

Kisah Sultan Hasanuddin dalam memperjuangkan kemerdekaan di bumi Sulawesi Selatan, menjadikannya salah satu sosok yang begitu dikenang. Tidak hanya dikenang di tanah Sulawesi semata, namun seluruh Indonesia juga mengagumi bagaimana beliau berani mengusir para penjajah dari tanah Sulawesi.

Makam Sultan Hasanuddin berlokasi di komplek Pemakaman raja-raja Gowa di puncak bukit Tamalate, tepatnya di jalan Pallantikang, kelurahan Katangka, kecamatan Somba Opu, kabupaten Gowa. Lokasinya hanya sekitar 3,3 kilometer dari kota Makassar.

Pengunjung dapat masuk secara bebas tanpa dipungut biaya. Lokasinya juga sangat mudah dijangkau baik melalui kendaraan pribadi, atau jika anda menyewa angkutan bernama pete-pete (nama angkutan umum di Makassar).

Pemakaman ini memang diperuntukkan khusus sebagai tempat peristirahatan terakhir para pahlawan kemerdekaan yang gugur di Sulawesi Selatan.

Tidak Sekedar Pemakaman

Kompleks Makam Pahlawan Sultan Hasanuddin, merupakan salah satu objek cagar budaya peninggalan kerajaan Gowa, yang masih dapat kita saksikan sampai sekarang. Cagar budaya itu kini dikelola oleh Badan Pelestarian Cagar Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Meskipun bernama pemakaman, tapi isinya tidak melulu hanya kuburan bagi orang yang sudah meninggal saja. Ada banyak informasi lain yang bisa ditemukan di makam ini. Seperti misalnya silsilah Kerajaan Gowa, beserta sejarah singkat mereka pada masa lampau.

Selain itu, situs kebudayaan ini juga banyak dimanfaatkan sebagai objek penelitian dalam pengembangan khazanah sejarah kebudayaan Nusantara. Bahkan, kompleks Makam Sultan Hasanuddin juga menjadi salah satu alternatif objek wisata sejarah di Sulawesi Selatan.

Tak sedikit pula peziarah yang berkunjung setiap harinya, menandakan tempat tersebut masih memiliki ikatan emosional dari masa lalu dengan masyarakat.

Baca Juga:

Di tempat ini, anda akan menemukan sebanyak 21 makam. Selain sebagai tempat pemakaman para raja, para kerabat serta keluarga dari lingkungan kerajaan Gowa yang sudah gugur juga dimakamkan di Pemakaman ini.

Kompleks makam seluas 12.666 meter persegi itu terdapat tujuh makam raja-raja Gowa. Selain Sultan Hasanuddin, di tempat yang sama, dimakamkan pula Sultan Alauddin, raja Gowa yang pertama kali menyebarkan ajaran Agama Islam di Kerajaan Gowa.

Pengelola Kompleks Makam Sultan Hasanuddin menyebut, ada tujuh raja Gowa yang dimakamkan di kompleks pemakaman ini, yakni Raja Gowa ke-11 Karaeng Data Tunibatte, Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin, Raja Gowa ke-15 Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-16 Sultan Hasanuddin, Raja Gowa ke-17 Sultan Amir Hamzah, Raja Gowa ke-18 Sultan Mohammad Ali, dan Raja Gowa ke-19 Sultan Abdul Jalil.

Sempat Alami Renovasi

Tempat ini sendiri sempat mengalami beberapa renovasi, yang terakhir dilakukan pada 2019 lalu. Momen tersebut diresmikan secara langsung oleh Menteri Sosial pada saat itu, Agus Gumiwang Kartasasmita.

Ia berharap bahwa tempat pemakaman ini tidak hanya difungsikan sebagai tempat peristirahatan terakhir para jenazah yang gugur di medan peperangan, tapi ia juga menginginkan tempat ini dapat menjadi sarana edukasi dan destinasi wisata ziarah nasional.

Renovasi ini juga merupakan salah satu proyek dari program pembangunan Historycal Park yang tengah digagas oleh Pemerintah pusat. Anggaran yang disiapkan mencapai Rp 2,5 miliar. Sehingga, fungsi dari makam Sultan Hasanuddin kini berkembang menjadi salah satu objek wisata, sekaligus museum peninggalan sejarah Kerajaan Gowa.

Diharapkan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam setiap pesan yang terpampang dalam Taman makam Pahlawan ini, bisa membuat para generasi muda lebih melek terhadap sejarah, dan bisa mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang dialami oleh Sultan Hasanuddin maupun Kerajaan Gowa pada umumnya.

Sultan Hasanuddin atau Mallombosi Daeng Karaeng Bontomangape, adalah sosok pemberani yang mampu dalam mengusir penjajah dari bumi Sulawesi Selatan. Kompeni Belanda pun menjulukinya “Ayam Jantan dari Timur” atas kehebatannya. Beliau juga merupakan Raja Gowa ke-16 yang memegang tampuk kekuasaan selama 17 tahun.

Atas jasa-jasanya yang luar biasa, Pemerintah RI kemudian menganugerahi gelar pahlawan nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 87/TK/1973 tanggal 6 November 1973. Namanya pun diresmikan sebagai Nama Taman Makam Pahlawan di kabupaten Gowa.

 

 

 

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button