Mang Ade: Gibran “Disembunyikan” Dalam Gua

Baaca.id, GARUT – Ade Leji (55), lelaki yang dijadikan sesepuh oleh warga Kampung Citiis, Desa Pasawahan, Kecamatan Tarogong Kaler, Garut, Jawa Barat ini mengungkapkan jika Gibran Arrasyid disembunyikan di Gua Curug Cikoneng.

Ade Leji atau biasa dipanggil Mang Ade adalah orang pertama yang menemukan Gibran, pendaki muda yang dihilang di Gunung Guntur Garut selama lima hari. Mang Ade memang merupakan orang yang kerap dipercaya warga untuk menemukan pendaki yang hilang di gunung tersebut.

Dia mengaku, selama Gibran dinyatakan hilang di Gunung Guntur, dirinya tak tinggal diam. Dia mencari Gibran di saat orang-orang lain beristirahat. “Saya berangkat melakukan pencarian usai salat Magrib, pulang subuh,” aku Mang Ade.

Sejak dinyatakan hilang, Mang Ade sudah memiliki firasat bahwa Gibran, yang masih duduk di bangku SMP itu bakal ditemukan dalam keadaan sehat.

“Kasus Gibran hilang saya sudah ceritakan ke keluarganya. Gibran akan selamat, tapi tunggu waktunya,” ungkap Mang Ade, dikutip dari tvOnenews.com.

Mang Ade mengungkapkan, ada sosok tak kasat mata berperan atas hilangnya Gibran. Menurutnya sosok itu merupakan jin yang memang kadang mengganggu manusia saat mendaki.

“Ini merupakan kasus ketiga selama saya melakukan pencarian pendaki hilang di Gunung Guntur. Untuk yang Gibran memang cukup lama prosesnya,” ujar pria sederhana ini.

Mang Ade mengaku melakukan ritual khusus sehingga makhluk tersebut bersedia melepas Gibran. Dia mengaku berupaya menancapkan paku bumi. “Alhamdulilah berkat ridho Yang Kuasa, Gibran ditemukan keluar dari Gua Curug Cikoneng,” katanya.

Mang Ade menjelaskan, paku bumi yang dia maksud bukanlah alat biasa. Paku bumi merupakan alat yang bukan dibuat manusia. Ada lafaz bentuknya seperti paku warnanya kuning keemasan.

“Saya tancap di sekitaran Curug. Alhamdulilah Jumat kemarin korban ditemukan 15 menit usai paku bumi ditancapkan,” katanya lagi.

Meski menjadi orang pertama yang menemukan Gibran, Mang Ade tidak mau menjadi sorotan. Namun warga memintanya mengisahkan kejadian sebenarnya. Dia pun akhirnya mengakui sebagai orang pertama yang menemukan korban.

“Ya, saya orang pertama yang menemukan Gibran, bahkan saat Gibran keluar dari Gua Curug Cikoneng. Kemudian dia terduduk di bebatuan, ya saya yang hampiri. Kemudian saya dari situ bawa perbekalan nasi sama minum. Saya kasih dia untuk dimakan,” kata Mang Ade lagi.

Ade pun menceritakan kondisi Gibran saat pertama kali terlihat lagi. “Ya pertama keluar gua, terus duduk, saya panggil namanya Gibran, tapi dia terdiam masih duduk. Saya pegang foto Gibran makanya saya tahu wajahnya. Tapi saya gak ajak dia bicara dulu, karena kaya masih nempel ‘itu’ (makhluk)-nya. Mulutnya Gibran seolah masih terkunci,” kata Mang Ade.

Usai diberi makan, Mang Ade berupaya menghubungi camp pos jaga Gunung Guntur, tetapi sayang sinyal ponsel Mang Ade sulit mendapatkan jaringan karena berada di gunung. Mang Ade kemudian mengirimkan voice note ke temannya di pos untuk meminta bantuan evakuasi. Pesan suara itu terkirim begitu ponselnya menerima sinyal.

“Halow ieu korban ketemu meluncur ka Curug Cikoneng halow halowww (halo ini korban ketemu, meluncur ke Curug Cikoneng), nah kemudian HP yang tadi saya hubungi lewat voice note WA diterima sama Mamat RW, terus Mamat RW manggil Kapolsek,” tambah Ade.

Sebelum rombongan Mamat tiba ke lokasi, ada teman Mang Ade yang sampai duluan yaitu Deni. Dia melihat Mang Ade membopong Gibran. Mereka kemudian bertemu enam orang berseragam polisi, yakni rombongan Bripda M Septian.

“Ya dipangku (digendong) Deni. Ada polisi yang lanjutkan gendong Gibran ke bawah,” Ade bercerita sambil menunjukkan videonya.

Ade mengungkapkan ada sosok makhluk di luar nalar dalam insiden hilangnya Gibran. Dia mengaku pernah mengalami kejadian serupa beberapa tahun lalu.

“Saya pernah kaya Gibran, padahal saya orang sini. Beberapa tahun ke belakang, kata keluarga saya hilang. Hilangnya 7 hari, padahal seingat saya yang dialami cuma sehari, itu pun yang saya rasa masih siang. Kemudian saya berhasil pulang ke rumah. Kata keluarga kamana wae saminggu (kemana saja se minggu), ya saya jawab seminggu gimana, sahari ah,” terang Mang Ade. (#)



Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button