“Cintamu Sepahit Minuman Topi Miring”, Korelasi Puisi dan Bahayanya Minuman Keras

Dengan cinta sepahit topi miring

Layar dibuka turun hujan gembukan

Dewi Mlenukgembuk datang

Membawa seguling roti cakwe

Marmoyo rebah terguling

……

(Cintamu Sepahit Topi Miring, Sindhunata: Kumpulan Puisi Air Kata-kata (2003)

Baaca.id — Penggalan puisi “Cintamu Sepahit Minuman Topi Miring” karya Sindhunata ini memang relevan jika disandingkan dengan efek samping minuman keras termasuk minuman Topi Miring. Memabukkan.

Puisi Cintamu Sepahit Minuman Topi Miring dalam kumpulan puisi Air Kata-Kata karya Sindhunata tahun 2003 ini jika dimaknai bahwa mabuk jelas tak punya efek positif apapun.

Buruk, tapi baru menyadari setelah tak lagi mabuk untuk kemudian mengulanginya kembali. Kenyataannya, mabuk tak lantas menghilangkan masalah yang ada, tapi justru sebaliknya.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dalam Bunga Kelapa Bonsai

Efek Negatif Minuman Topi Miring

Dunia punakawan menggambarkannya. Mabuk tak lebih dari memunculkan masalah baru. Ketika para punakawan itu mabuk maka semua fungsi mereka sebagai pengayom yang bijak menjadi luruh seketika hanya karena minuman keras.

Dahsyatnya efek minuman keras yang tak hanya terjadi usai menenggaknya tapi juga efek jangka panjang yang timbul akibat terlalu sering mengonsumsi minuman keras yang berbahaya untuk kesehatan.

Minuman Favorit

Akan halnya minuman topi miring. Minuman ini menjadi favorit semua lapisan karena harganya yang murah. Minuman topi miring adalah solusi. Harganya yang merakyat adalah alternatif.

Dari sekian banyak minuman keras yang beredar. Topi miring adalah minuman keras yang harganya paling terjangkau diantara minuman lain. Karenanya ia banyak diminati.

Banyak istilah yang kemudian muncul dari minuman topi miring. Sekedar mengikuti perkembangan zaman atau untuk menghindari aparat. Sebut saja istilah seperti; Tomi atau TM yang semuanya adalah akronim dari topi miring.

Tak hanya itu, minuman topi miring kerap menjadi bahan dasar minuman oplosan. Ragam oplosan pun berkembang dari minuman bersoda, minuman berenergi hingga obat anti nyamuk.

Minuman oplosan ini pulalah yang belakangan menimbulkan banyak korban jiwa. Karena, kandungan alkohol dicampur dengan berbagai jenis bahan atau minuman lain yang merusak organ tubuh.

Minuman topi miring adalah minuman lokal yang disebut juga Ciu Bekonang yang berasal Sukoharjo, Jawa Tengah adalah hasil fermentasi dari tetes tebu yang dicampur dengan bahan lain dan diberi label bergambar topi miring.

RUU Minuman Beralkohol

Melihat banyaknya dampak negatif tak hanya dari topi miring, tapi juga minuman keras lain baik yang lokal maupun impor, DPR kini tengah menggodok rancangan undang-undang (RUU) tentang larangan minuman beralkohol.

Baca Juga: Kontroversi Legalisasi Miras

Jika RUU ini disahkan menjadi undang-undang maka siapapun yang masuk dalam kategori produsen, penjual, hingga yang mengonsumsi minuman beralkohol dikenai ancaman pidana.

Sanksi pidana ini bahkan berlaku untuk semua jenis golongan. Jika sebelumnya, hanya minuman beralkohol golongan tertentu yang bisa dan diperkenankan beredar, nantinya semua minuman yang mengandung alkohol akan dilarang sepenuhnya.

Selama ini, minuman beralkohol masuk dalam klasifikasi berdasarkan golongan yang mengacu ke kandungan alkoholnya mulai dari golongan A, B dan C.

Dalam RUU, semua golongan itu termasuk minuman tradisional yang mengandung fermentasi alkohol maupun minuman tradisional beralkohol akan dilarang peredarannya, penjualnya dan konsumsinya.

Sanksi

Sanksinya selain pidana hukuman penjaran maksimal 10 tahun, diatur juga denda mulai dari Rp 200 juta hingga 1 Miliar.

Meski demikian, ada pengecualian larangan maupun sanksi terhadap minuman beralkohol. Minuman beralkohol hanya diperkenankan untuk momen tertentu seperti untuk ritual yang terkait dengan keagamaan, kebutuhan farmasi.

Pengecualian juga berlaku untuk daerah-daerah tertentu, seperti misalnya di Bali yang menjadi destinasi wisata. Pemanfaatan alkohol untuk wisatawan juga tetap diperkenankan dalam RUU ini.

Rancangan undang-undang ini merupakan gagasan dari Fraksi PPP, PKS dan Gerindra di DPR RI.

Tujuannya adalah melindungi masyarakat dari dampak negatif yang muncul dari minuman beralkohol yang bisa menganggu ketertiban dan rasa aman masyarakat dari siapapun yang mengonsumsi minuman beralkohol.

Undang-undang minuman beralkohol ini juga dianggap memiliki urgensi yang mendesak jika mengacu pada sejumlah perspektif kebutuhan RUU khusus yang mengatur tentang minuman beralkohol.

Dari perspektif filosofis, dijelaskan akan pentingnya larangan minuman beralkohol demi nilai Pancasila dan UUD 1945.

Sedang dari sisi sosial. Telah banyak korban akibat mengonsumsi minuman beralkohol serta munculnya tindakan kriminal dan kekerasan sehingga RUU ini dianggap mendesak.

Dengan cinta sepahit topi miring. Sindhunata ingin menyiratkan makna. Apa yang kamu dapat dari sebotol minuman topi miring, jika tak penyesalan. Jika tak kerusakan baru.

 



Related Articles

Back to top button