Mengenal Sejarah dan Panca Dasar PSHT

Baaca.id — Saat ini, Persaudaraan Setia Hati Terate atau yang lebih dikenal dengan PSHT memiliki cabang di 200 kabupaten/kota di Indonesia. PSHT tak hanya sebuah perguruan pencak silat. PSHT adalah sebuah organisasi yang memiliki prinsip yang terangkum dalam panca dasar PSHT.

Perguruan silat ini bahkan merambah hingga ke luar negeri; Malaysia, Perancis, Jepang, Belgia, Rusia, Belanda, Hongkong, hingga Korea Selatan.

Jumlah warga (sebutan untuk anggota PSHT) saat ini diklaim sudah mencapai 8 juta warga, termasuk warga yang ada di luar negeri.

Untuk ukuran sebuah perguruan pencak silat, jumlah ini bukanlah angka yang kecil apalagi dengan simpul keterikatan yang kuat tak hanya dengan warga antar satu daerah yang sama tapi warga lain yang berada di luar Indonesia.

Baca Juga: Daftar Masker yang Bisa Dicuci

PSHT tak ubahnya sebuah organisasi besar dengan satu tujuan yang sama. Rumah besar persaudaraan yang memiliki keinginan untuk mendidik sekaligus membentuk karakter manusia yang memiliki budi luhur.

Selain itu, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan menanamkan kesetiaan terhadap hati dan sanubari dan mengutamakan rasa persaudaraan kepada anggota.

Kiprah PSHT terhadap dunia pencak silat di Indonesia pun tak sedikit. Perguruan ini menjadi 1 dari 10 perguruan silat yang memiliki andil terhadap berdirinya Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) sebagai induk organisasi yang menaungi seluruh perguruan pencak silat di Indonesia.

Sejarah PSHT

Ki Ageng Soero Dwiryo adalah pendiri PSHT. Perguruan ini didirikan tahun 1903 di Kampung Tambak Gringsing, Surabaya.

Ki Ageng Soero jugalah yang menciptakan dasar-dasar jurus di PSHT. Meski awalnya belum bernama Setia Hati tapi perguruan pencak silat Djojo Gendilo Tjipto Moeljo.

Barulah pada 1917, Ki Ageng Soero Dwirjo mengubah namanya menjadi Persaudaraan Setia Hati di Desa Winongo, Madiun.

Ketika itu, Belanda melarang apapun bentuk organisasi termasuk pencak silat, sehingga namanya masih berupa persaudaraan (kadang) antar murid.

Pemberian nama persaudaraan ini juga terdapat makna tersendiri. Ki Ageng Soero ingin PSHT menjadi sebuah wadah persaudaraan dalam bingkai nasionalisme Indonesia di tengah jajahan Belanda.

Persaudaraan Setia Hati pun kian berkembang dan tahun 1922, Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang juga ‘kadang’ atau saudara Setia Hati meminta izin kepada Ki Ageng Soero Dwirjo untuk melatih generasi muda saat itu dengan nama Setia Hati Pemoeda Sport Club (SH PSC).

SH PSC inilah yang belakangan berubah menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate atau PSHT pada 1948. Dan secara resmi menjadi organisasi dalam kongres pertamanya di Madiun.

Sedangkan, Ki Ageng Hadji Soero Dwirjo meninggal pada 10 November 1944 di Madiun atau empat tahun sebelum PSHT resmi menjadi organisasi.

Adalah Mas Irsyad yang tak lain murid dari Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang berhasil menciptakan jurus toya, jurus belati, jurus tongkat hingga senam dasar.

Panca Dasar PSHT

Lima dasar PSHT itu yakni;

1.Persaudaraan.

2.Olahraga

3.Beladiri

4.Kesenian.

5.Kerohanian

Baca Juga: Jenis Ikat Simpul dan Cara Membuat Tiang Bendera Pramuka

Tiap dasar itu memiliki makna dan arti tersendiri yang harus ditaati oleh kadang atau warga PSHT.

1. Persaudaraan

Dasar pertama adalah persaudaraan yang berarti hubungan batin layaknya saudara kandung. Sehingga dalam PSHT semua manusia ataupun kadang adalah saudara yang sama derajatnya, hak dan kewajibannya tanpa memandang status sosial, agama, ataupun keturunannya. Sehingga persaudaraan dalam PSHT adalah kekal.

2. Olahraga

Olahraga dalam PSHT memiliki makna mengolah raga dengan jurus pencak silat untuk; menenangkan hati, membangkitkan rasa percaya diri, menghilangkan stress hingga melatih otot tubuh menjadi kuat dan membangun kekuatan, kecepatan dan keseimbangan.

3. Beladiri

Pencak silat sebagai bekal dalam diri digunakan untuk membela dan mempertahankan kehormatan diri, keluarga dan bangsa.

4. Kesenian

Pencak silat juga adalah seni dalam permainan gerak melalui jurus melalui permainan individu, tim hingga dalam jumlah yang besar.

5. Kerohanian

Yang terakhir adalah kerohanian. Para warga kadang menyebutnya sebagai SH adalah anugerah Tuhan kepada manusia agar berbudi serta mendidik agar setia hati dalam menjalani hidup untuk memperoleh kebahagiaan lahir batin

Dari panca dasar PSHT itu, perguruan ini juga mendidik warganya untuk memiliki lima watak dasar yang juga harus dimiliki para kadang.

Lima watak dasar itu adalah;

  1. Memiliki budi yang luhur dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Berani dan tidak takut mati.
  3. Tidak mudah menyerah dan kalah terhadap apapun
  4. Berjiwa sederhana.
  5. Berupaya menjaga ketentraman hati dalam menjalani hidup atau Mamayu Hayuning Bawana.

Itulah panca dasar PSHT yang membawa organisasi ini tetap ada sampai saat ini dan bahkan menjadi besar dan memiliki cabang di hampir seluruh wilayah Indonesia bahkan merambah hingga ke luar negeri.

 

Related Articles

Back to top button