Pandemi Covid-19 Dianggap Biang Penyebab Distorsi Layanan Kesehatan

Baaca.id, MAKASSAR – Penyebaran coronavirus disease 2019 (Covid-19) membawa banyak dampak negatif. Bahkan menyebabkan distorsi layanan kesehatan.

Hal itu diungkapkan Chief Field Office (CFO) United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) Makassar, Henky Widjaja di Lokakarya Persiapan Pelaksanaan Lingkar Lengan Atas (LiLA) Keluarga secara virtual yang dibuka Plt Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Sulsel, Naoemi Octarina, Selasa (5/10/2021).

Henky memaparkan, upaya pemerintah di setiap daerah yang terlalu fokus pada penanganan Covid-19 atau disebut juga virus korona justru menyebabkan terbatasnya masyarakat membatasi akses mereka untuk mendapatkan fasilitas kesehatan.

Hal itu menurut Henky, juga menyebabkan peningkatan jumlah kasus gizi buruk pada balita. Setidaknya dalam dua tahun terakhir.

“Sangat mendesak bagi kita untuk mengambil tindakan cepat dan tepat, untuk memperbaiki serta mencegah peningkatan kasus gizi buruk ini,” tegas Henky.

Lanjut, Hanky menyampaikan, anak-anak yang kekurangan gizi atau gizi buruk memiliki risiko kematian 12 kali lebih tinggi dibandingkan balita yang berstatus gizi normal.

Bahkan disebutkan, banyak kepala keluarga kehilangan pekerjaan di masa pandemi Covid-19 ternyata turut mempengaruhi peningkatan kasus kekurangan gizi di kalangan bayi di bawah usia lima tahun (balita).

“Pandemi ini mengakibatkan banyak kepala keluarga yang kehilangan pekerjaan atau mengalami penurunan penghasilan, yang kemudian mempengaruhi kemampuan keluarga terutama yang di kalangan menengah kebawah, untuk memenuhi kebutuhan sandang dan pangan serta gizi anaknya,” beber Henky.

Terkait, Plt Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Sulsel, Naoemi Octarina di di Lokakarya Persiapan Pelaksanaan LiLA Keluarga menyampaikan pesan kepada para orang tua harus bisa melakukan deteksi dini terhadap balita yang berindikasi mengalami gizi buruk.

Menurut istri Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman itu, nutrisi yang optimal sangat dibutuhkan buat perkembangan dan pertumbuhannya mereka.

Selain menurunkan sistem kekebalan tubuh, persoalan gizi buruk ataupun kekurangan gizi juga bisa berdampak buruk terhadap mental dan daya intelektual anak-anak. Bahkan terjadi risiko kematian.

“Melalui pelaksanaan LiLA keluarga ini, kita berharap para orang tua bisa melakukan deteksi dini. Begitupun dengan para kader Posyandu (pusat pelayanan terpadu),” harap Naoemi. (*)



Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button