Pengungsi di Mamuju Berangsur Berkurang

Baaca.id, MAMUJU – Jelang dua pekan penanganan dampak gempa Sulbar di masa transisi darurat, jumlah pengungsi di Kabupaten Mamuju menunjukkan pengurangan yang cukup signifikan. Sejumlah warga yang berada di titik-titik pengungsian mulai memilih kembali ke rumah.

Pada hari pertama masa transisi darurat, (5/2/20210, pengungsi berjumlah 40.974 orang. Namun, hingga Selasa, (16/2/2021), jumlah pengungsi di Kabupaten Mamuju berkurang 4.027 menjadi 36.947 orang.

Para pengungsi ini tersebar di 194 titik yang berada di Kecamatan Tappalang, Tappalang Barat, Simboro, Mamuju, Kalukku, dan Kecamatan Papalang. Khusus Kecamatan Bala-balakang, per 9 Februari,sudah tidak terdapat titik pengungsian.

Koordinator Bidang Mitigas Gempa Bumi dan Tsunami Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Daryono mengatakan, berdasarkan analisa dengan sejumlah indikator, kondisi Sulbar memang sudah relatif aman.

“Kami sudah mengatakan, berdasarkan analisa sudah relatif aman. Tetapi karena kami tak punya rakyat, kami tak berhak untuk menyarankan atau merekomendasikan agar pengungsi kembali ke rumah. Soal itu tentu diserahkan kepada pemda masing-masing” sebut Daryono.

Ditemui di Pos Komando Transisi Darurat, Kepala Bidang Data Informasi dan Humas Pos Komando Transisi Darurat, Safaruddin  mengatakan, terkait pengungsi, beberapa waktu lalu BNPB telah menyatakan persoalan pengungsi gempa Sulbar ditarget berakhir di pertengahan tahun. Diharapkan bisa lebih cepat bisa tetapi tidak menutup kemungkinan lebih lama.

“Berisiko untuk menginstruksikan pengungsi pulang ke rumah. Selain masih banyak warga yang rumahnya rusak berat, tidak sedikit pula warga yang mengalami trauma dan mengkhawatirkan keselamatan anak-anak jika mereka kembali ke rumah. Tetapi bagi yang rumahnya masih layak, atau tidak rusak selalu akan kami imbau untuk kembali. Dan kalau pun masih khawatir, bisa dengan bertenda di depan atau sekitar rumah” kata Safaruddin.

Terkait, gempa susulan yang dikhawatirkan banyak pihak, Safaruddin mengharapkan masyarakat Sulbar agar lebih meningkatkan pengetahuan atau wawasan tentang kebencanaan. Sebab, bagaimana pun juga, kata Safaruddin, Sulbar sudah ditakdirkan berada di daerah rawan gempa. Sehingga selalu dalam kondisi siap siaga terhadap bencana untuk meminimalisir risiko yang bisa timbul adalah jawaban dari kondisi ini.

“Bahkan BMKG atau ahli sekali pun tak ada yang bisa memprediksi kapan waktunya gempa itu terjadi. Jadi, yang kita bisa lakukan adalah senantiasa siap siaga. Dan yang paling penting, tidak lupa mengencangkan doa dan ibadah. Semoga daerah kita terhindar dari dampak bencana,” pungkas Safaruddin.(syarif)



Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button