Pilih Berhenti Sekolah Daripada Belajar Daring

Baaca.id, KALIMANTAN TENGAH — Semenjak pemerintah memberlakukan pembelajaran jarak jauh atau dalam jaringan (daring) pada masa pandemi Covid-19, ternyata ada banyak siswa yang tinggal di wilayah pesisir Sungai Mentaya, terpaksa menyatakan berhenti sekolah, karena kesulitan mengikuti sistem pembelajaran ini.

“Ada sekitar 10 siswa sekolah kami yang terpaksa menyatakan berhenti, mereka bingung karena tidak bisa mengikuti pelajaran secara daring,” terang kepala SMK Negeri 1 Pulau Hanaut, Kusmiadi, dikutip dari tvOnenews.com.

SMK Negeri 1 Pulau Hanaut, adalah satu-satunya sekolah tingkat SMA yang berada di Kecamatan Pulau Hanaut. Sementara kecamatan ini sendiri berada di sebelah selatan bagian seberang Kabupaten Kotawaringin Timur.

Kesulitan yang mereka hadapi dengan sekolah secara daring, sebenarnya bukan dikarenakan mereka tidak memiliki perangkat, seperti ponsel android, tapi karena di daerah tersebut akses internet memang tidak ada. Yang ada akses internet hanya di seputar pusat kecamatan saja.

“Akhirnya siswa kami banyak yang memilih berhenti melanjutkan sekolah, karena mereka mengaku tidak tahu harus berbuat apa selama pandemi. Bahkan sebagian saat ini sudah ada yang menikah,” sesal Kusmiadi.

Pihak sekolah sendiri juga tidak tahu harus berbuat apa, sebab aturan pemerintah memang melarang Pembelajaran Tatap Muka (PTM).

Pihak sekolah sebenarnya pernah memiliki inisiatif untuk datang ke rumah-rumah siswa secara bergiliran. Namun setelah mempertimbangkan kondisi geografis di kecamatan Pulau Hanaut, mereka merasa sulit untuk melaksanakannya.

“Jarak rumah siswa kami dengan sekolah rata-rata jauh sekali, dan kebanyakan tidak bisa diakses lewat jalur darat, harus naik kelotok (perahu kecil bermesin) untuk mendatangi mereka,” kata Kusmiadi.

Karena itu dengan sudah adanya kebijakan Pemkab Kotawaringin Timur yang saat ini sudah mengizinkan PTM, dirinya berserta jajaran dewan guru dan seluruh siswa di SMK Negeri 1 Pulau Hanaut, sangat menyambut gembira keputusan ini.

“Meski masih PTM terbatas, tapi setidaknya bisa memberikan pencerahan dan harapan kepada siswa-siswa kami, untuk bisa mendapatkan kembali pendidikan mereka yang sempat terhenti hampir 2 tahun lamanya. Semoga PTM ini bisa berjalan selamanya dan bukan PTM terbatas lagi,” harap Kusmiadi. (#)



Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button