PPKM Level 4 Berlanjut, Belajar Tatap Muka di Makassar Bisa Molor 2022

Baaca.id, MAKASSAR – Kota Makassar memperpanjang kebijakan PPKM level 4 hingga 20 September 2021. Jika PPKM berlangsung hingga Oktober, pembelajaran tatap muka dimungkinkan molor sampai 2022.

Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto mengatakan, PPKM masih harus diterapkan dua pekan ke depan karena situasi pandemi belum benar benar landai. Namun begitu, pelonggaran kurva kasus sudah makin menyusut.

“Kita jaga ini agar mobilitas warga dikontrol. Kurva kasus sudah menurun tapi PPKM level 4 ini penting. Diberlakukan untuk mempersempit potensi penyebaran,” jelas Danny, Rabu (8/9/2021).

Ditanya soal target belajar tatap muka, Danny mengatakan, akan sangat bergantung pada kurva kasus. Dalam kondisi yang ada sekarang pihaknya belum berani memberi lampu hijau.

“Jarak jauh dululah. Karena ini masih berisiko,” katanya

Berdasarkan ketetapan pemerintah pusat, sebanyak 23 daerah di luar Jawa dan Bali memperpanjang PPKM level 4 hingga 20 September 2021. Sulsel menyisakan satu daerah yakni Kota Makassar.

Di Jawa dan Bali terdapat 11 daerah yang menerapkan PPKM level 4. Sisanya, turun ke level 3 dan 2.

Data Satgas Covid-19, Jawa dan Bali mengalami kemajuan penanganan Covid yang signifikan. Sebelumnya terdapat 25 kabupaten dan kota yang berada pada level 4. Setelah 5 September turun menjadi 11 daerah.

Covid-19 Indonesia yang sudah menyentuh 4 juta kasus memang masih menyisakan kekhawatiran. Kurva tak terkendali ini dikhawatirkan akan membuat agenda belajar tatap muka tertunda lebih lama.

“Melihat tren kasus sepertinya belajar tatap muka masih sulit dilakukan dalam 3 bulan. Sangat mungkin molor ke 2022,” ujar Fakhri Supardi, pengamat pendidikan Sulsel, beberapa waktu lalu.

Menurut Fakhri, ada banyak pertimbangan soal dimulainya belajar tatap muka. Pertama, kemampuan sekolah dalam menerapkan prokes ketat yang masih meragukan.

Kedua, angka kasus masih relatif tinggi. Belum ada penurunan secara merata di semua daerah.

“Jadi belum bisa berlaku menyeluruh,” katanya.

Fakhri menyinggung soal pembelajaran daring selama setahun lebih. Menurutnya, dampaknya sangat terlihat pada penurunan kualitas siswa. Durasi belajar yang pendek dan hilangnya iklan ruang kelas, membuat daya serap siswa juga menurun.

“Efeknya sangat komplet. Semua menurun secara kualitas. Bukan saja siswa tapi juga guru,” jelasnya.

Mendikbud Ristek Nadiem Makarim sendiri belum akan memastikan jadwal belajar tatap muka secara nasional. Belajar tatap muka hanya akan dilakukan per zona.



Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button