Pro Kontra Kehadiran Putin di KTT G20 Bali, Ditolak Barat Didukung China

BAACA.ID, JAKARTA – Rencana Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menghadiri KTT G20 di Bali Indonesia menimbulkan pro dan kontra diantara negara-negara. Negara barat yaitu AS dan Eropa diketahui menolak keras rencana tersebut. Ini berlandaskan invasi yang dilakukan Rusia ke Ukraina sejak akhir Februari hingga saat ini.

Duta Besar Ukraina untuk Indonesia Vasyl Hamianin mengatakan menolak keras kedatangan Putin ke KTT. Kehadiran Putin di acara internasional dinilai merupakan suatu penghinaan terhadap demokrasi, martabat manusia, dan supremasi hukum.

“Kami menyerukan seluruh negara demokratis untuk membantu menyelamatkan dunia dari diktator Putin yang kejam. Boikot Rusia dan Putin dalam semua kemungkinan platform internasional,” jelasnya, dikutip dari CNN Indonesia.

Menurutnya putin merupakan seorang diktator dan kriminal internasional. Sehingga tak memiliki hak legal untuk berpartisipasi di setiap forum internasional dalam bentuk apa pun.

“Rencana Presiden Putin berpartisipasi dalam KTT G20 di Bali, sebagai kriminal, pembunuh, dan diktator, Putin tidak memiliki hak hukum berpartisipasi dalam forum internasional, pertemuan puncak, atau multilateral,” katanya.

Sejalan dengan itu Polandia bahkan telah menyarankan kepada pejabat perdagangan AS untuk mengganti Rusia dalam kelompok G20. Yang kemudian oleh Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan para anggota G20 harus memutuskan tetapi masalah itu bukan prioritas sekarang.

Namun sebaliknya, China yang sejak awal tak mengecam tindakan invasi Rusia ke Ukraina justru mendukung agar Putin tetap hadir di KTT G20. Hal ini ucapkan juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin. Rusia disebut adalah anggota penting G20 yang merupakan kelompok yang akan menemukan jawaban atas isu-isu kritis, seperti pemulihan ekonomi dari pandemi COVID-19.

“Tidak ada anggota yang memiliki hak untuk memberhentikan negara lain sebagai anggota. G20 harus menerapkan multilateralisme yang nyata, memperkuat persatuan dan kerja sama,” ucapnya.

Indonesia sendiri, lewat Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menjelaskan telah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengenai rencana Putin. Ia pun terus membahas rencana ini karena Rusia adalah mitra penting Indonesia utamanya di Eropa Timur dan Tengah.

“Kami terus membahas rencana kunjungan Presiden Putin ke Indonesia sembari menunggu waktu yang tepat,” katanya.

Kunjungan Putin nanti juga akan melahirkan perjanjian kemitraan strategis antara kedua negara. “Perjanjian tersebut diharapkan menciptakan fondasi baru yang kokoh bagi upaya peningkatan hubungan kedua negara,” ujar Retno. Adapun terkait kunjungan Menlu Sergei,” jelasnya.

Sebelumnya, Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva mengatakan Presiden Putin berencana menghadiri KTT G20 yang bakal diadakan di Bali pada akhir 2022.

“Tergantung pada situasi, sejauh ini dia (Putin) mau datang ke KTT G20,” kata Lyudmila (23/3/2022).

Lebih lanjut, Ia mengatakan Indonesia menjadi presiden G20 bukan untuk membahas masalah krisis Rusia-Ukraina, tapi lebih kepada meningkatkan ekonomi global dan masalah lainnya. “Mengeluarkan Rusia (dari G20) tidak akan membantu perekonomian global,” tambahnya.



Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button