Sudah 10 Bulan Beraksi, Lima Sindikat Pengedar Uang Palsu Akhirnya Tertangkap

Baaca.id, SURABAYA — Polda Jawa Timur berhasil mengungkap peredaran uang palsu senilai Rp3,8 miliar di kawasan rest area Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Lima pelaku berhasil diamankan.

Kelima pelaku masing-masing, ASP, warga Lombok NTB; AAP, AUW dan AS, warga Nganjuk, serta JS, warga Bojonegoro. Mereka tak berkutik saat tertangkap saat mengedarkan uang palsu tersebut.

Dari hasil pengembangan, polisi juga menemukan tempat pembuatan uang palsu di kawasan Bojonegoro. Sindikat ini sudah melakukan aktivitas produksi dan peredaran uang palsu sejak 10 bulan lalu.

Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Gatot Repli Handoko mengaku mendapatkan laporan adanya transaksi uang palsu di kawasan rest area Banyuwangi. Tak lama, petugas Ditreskrimsus Polda Jatim bersama Polres Banyuwangi langsung bergerak cepat manangkap pelaku.

“Pelaku mengedarkan uang palsu pada malam hari. Sasarannya masyarakat awam,” ujar Kombes Pol Gatot saat melakukan rilis bersama Kapolres Banyuwangi, serta perwakilan Bank Indonesia Jatim di Polda Jatim, Kamis (7/10/2021).

Kombes Pol Gatot menambahkan, peredaran uang palsu ini dijual oleh pelaku dengan 1 banding tiga, atau 3 lembar uang palsu pecahan Rp100 ribu, dihargai dengan 1 lembar uang pecahan Rp100 ribu asli.

Barang bukti yang berhasil disita petugas, sebanyak 3.800 pecahan Rp100 ribu uang palsu, peralatan dan tinta sablon untuk cetak uang, kertas jenis doorslag, serta beberapa printer.

Polisi menjerat 5 pelaku dengan Pasal 26 ayat 2, tentang mata uang, dengan ancaman maksimal 10 tahun penjara, atau denda paling banyak Rp10 miliar.

BI: Uang Palsu Mudah Dikenali

Deputi Kepala Perwakilan Bank Iindonesia Jatim, Imam Subarkah berpesan, masyarakat harus waspada dan lebih teliti dalam menerima uang. Masyarakat harus menerapkan teknik 3D, yakni dilihat, diraba, dan diterawang.

Dari hasil penelitian yang dilakukan Bank Indonesia, hasil cetakan uang palsu ini, jauh dari keaslian uang yang sebenarnya.

ā€œTeknik cetaknya masih tradisional, karena menggunakan sablon, serta kertas doorslag, yang umum digunakan untuk perkantoran, sehingga hasilnya sangat halus seperti cetak kertas biasa. Padahal uang asli tercetak dengan teknik kasar saat diraba,” ungkap Imam.

Masyarakat juga diminta untuk lebih waspada. Menurutnya, peredaran uang palsu sengaja dipilih oleh tersangka pada malam hari karena melihat kelemahan hasil produksi uang palsunya sangat mudah dibedakan dengan uang asli.

BI juga akan terus berkoordninasi dengan aparat penegak hukum, serta terus melakukan edukasi kepada masyarakat. Bank Indonesia juga akan gencar melakukan edukasi kepada masyarakat, agar masyarakat semakin paham, untuk membedakan uang palsu dan uang asli yang beredar di masyarakat. (#)



Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button