Sudah Diresmikan Jokowi, Ganti Rugi Bendungan Paselloreng Belum Kelar

Baaca.id, SENGKANG – Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Wajo mengakui, pembebasan lahan Bendungan Passeloreng belum 100% kelar. Sejumlah lahan sedang proses penyelesaian.

“Memang masih ada sedikit persoalan dalam hal pembebasan lahan dan pembayaran ganti ruginya. Masih menyisakan sekitar 7 persenan yang belum terselesaikan,” jelas Kepala BPN Wajo Samsuddin Kadir, Jumat (24/9/2021).

Samsuddin mengatakan, terkait pembayaran ganti rugi sudah melalui proses dan sesuai prosedur. Dalam catatan pihaknya pembayaran bendungan Paselloreng hingga saat ini sudah mencapai 93 persen.

Menurutnya, peresmian yang baru-baru ini dilakukan Presiden Jokowi bukan akhir dari segalanya. BPN Kabupaten Wajo, lanjut Samsuddin, tetap berupaya untuk memfasilitasi penyelesaian ganti rugi tanah dan tanaman warga.

“Pihak kami telah mengusulkan agar pemerintah pusat segera menyelesaikan pembayaran ganti rugi tanah dan tanaman warga. Sekarang dalam proses,” tambahnya.

Selain itu, mantan Kepala BPN Sidrap ini, mengharapkan adanya dukungan dan sinergitas semua pihak dalam membantu BPN. Sebab pembebasan ini membutuhkan waktu. Terutama dalam menunggu proses pembayaran lahan.

Bendungan Paselloreng mulai dikerjakan pada 2015 lalu. Dan penyelesaiannya memang tengah digenjot beberapa bulan terakhir.

Bendungan ini memiliki kapasitas tampung sekitar 138 juta meter kubik. Luas genangan 169 hektar, dan ditarget bisa mengairi areal persawahan 8.510 hektar.

Bendungan Paselloreng yang dibangun dengan biaya sebesar Rp 771,69 miliar. Sementara, Bendungan Gilireng yang menggunakan anggaran Rp199 miliar yang berlokasi di Desa Arajang. Fungsinya sebagai pintu air yang akan mengairi lahan persawahan.

Bukan hanya sektor pertanian, hadirnya bendungan ini juga berfungsi sebagai penyedia air baku, konservasi sumber daya air, dan pengembangan kawasan wisata.

Begitu pula Bendungan Paselloreng dan Gilireng bisa dimanfaatkan sebagai infrastruktur pengendali banjir wilayah hilir Sungai Gilireng sebesar 1.000 meter kubik per detik.

Manfaat lainnya akan mendukung pengembangan sektor perikanan air tawar dan pariwisata serta konservasi Sumber Daya Air pada kawasan green belt.



Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button