Tak Berizin, Warga Geruduk Ruko yang Dijadikan Tempat Ibadah

Baaca.id, KOTAWARINGIN TIMUR – Sejumlah warga Jalan Pelita Timur, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah menggeruduk sebuah rumah toko. Mereka menolak ruko itu dijadikan tempat ibadah karena tidak memiliki izin.

Warga mendatangi langsung ruko tersebut yang saat itu tengah digunakan sebagai tempat ibadah untuk pertama kalinya, pada Selasa (28/09/2021) malam.

Salah seorang warga Jalan Pelita Timur, Hendri mengaku kalau warga sekitar keberatan jika ruko itu dijadikan rumah ibadah. “Apalagi kami selaku warga tidak pernah diberitahu sebelumnya,” ujar Hendri.

Untung saja, warga yang mendatangi ruko tersebut tidak berbuat anarkis. Mereka hanya berdiri bergerombol di depan rumah ibadah yang menempati salah satu ruko di bangunan tiga lantai tersebut.

Dikutip dari tvOnenews.com, sejumlah aparat kepolisian berpakaian preman juga terlihat berada di sana. Mereka memberikan pengertian kepada warga agar menyelesaikan permasalahan ini dengan musyawarah, tanpa ada kekerasan.

Dan untungnya imbauan aparat kepolisian ini cukup didengar oleh warga, sehingga situasi tetap kondusif sampai jemaah rumah ibadah tersebut menyelesaikan kegiatan dan membubarkan diri.

Ketua RT setempat, Akhmad Yani mengaku persoalan ini sebenarnya hanyalah masalah miskomunikasi saja. Menurutnya, selaku Ketua RT, dirinya tidak mempermasalahkan keberadaan rumah ibadah tersebut.

Yani beralasan, pihak pengelolanya sudah mengantongi surat rekomendasi dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), yang mengizinkan penggunaan bangunan ruko tersebut untuk rumah ibadah.

“Kita tidak bisa melarang orang untuk beribadah. Itu hak semua orang. Apalagi mereka juga sudah mendapat rekomendasi dari FKUB,” tutur Yani.

Hal senada dikatakan Ketua RW 05, Sugeng. Dia mengaku persoalan ini sebenarnya sudah dibahas di kantor Kelurahan Mentawa Baru Ketapang, Selasa siang. Intinya tidak ada larangan.

“Tapi mereka tidak bisa serta-merta langsung melakukan kegiatan, sebab ada beberapa hal yang mesti mereka penuhi, yaitu terkait dengan SKB dua menteri, yang mengatur pendirian rumah ibadah,” terang Sugeng.

Beberapa aturan yang harus dipenuhi, salah satunya yaitu menyangkut izin persetujuan warga sekitar, serta izin dari pihak kecamatan.

“Mereka mengira izin dari FKUB itu sudah cukup untuk memulai kegiatan, karena itu mereka akhirnya mulai melakukan kegiatan ibadah,” terangnya lagi.

Selain itu, kata Sugeng lagi, karena status bangunan yang dijadikan rumah ibadah tersebut adalah sewa, sehingga mereka dilarang untuk memasang plang nama rumah ibadah. Mereka juga nantinya hanya diberi batas waktu selama dua tahun melakukan kegiatan peribadahan di sana. (#)



Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button