Tak Bisa Bayar SPP, 11 Anak di Pulau Kodingareng Terancam Tak Lanjut Sekolah

Baaca.id, MAKASSAR– Sebanyak 11 anak di Pulau Kodingareng Makassar terancam tak bisa lagi melanjutkan pendidikannya di sekolah, pada tingkat SMA.

Orang tua kesebelas anak-anak itu diketahui tak bisa lagi membayar SPP atau Sumbangan Pembinaan Pendidikan. Sebab, orang tua yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan, kini, kehilangan tempat untuk bekerja sejak hadirnya penambang pasir laut dan merusak ekosistem laut.

Muhammad Al Amin selaku ketua Walhi atau Wahana Lingkungan Hidup Sulsel, mengatakan, para orang tua kesebelas anak itu menghubungi dirinya perihal persoalan tersebut.

“Sebenanrya saat kami mendengar informasi itu ingin langsung menindak lanjutinya ke Dinas Pendidikan Provinsi. Tapi karena keterbatasan waktu, akhirnya teman – teman berinisiatif menggalang donasi publik, agar kebutuhan penyelesaian biaya SPP ini bisa teratasi dengan cepat,” ujarnya, Kamis (15/4/2021).

Penggalangan donasi publik untuk membantu kesebelas anak di pulau Kodingareng Makassar, melalui kita bisa.com.

Berdasarkan pantauan Baaca.id, dana yang terkumpul telah mencapai Rp. 3 juta lebih. Sedangkan, dana yang diperlukan untuk mebantu anak-anak di pulau Kodingareng itu bisa kembali sekolah, itu mencapai Rp. 10 juta.

Amin bilang, para siswa yang diketahui bersekolah di SMA Citra Bangsa Kodingareng–sekolah swasta–itu terancam tak dibolehkan mengikuti Ujian Nasional, karena belum bayar SPP.

“Dan yang paling riskan, adalah ada beberapa orang anak yang terancam tidak bisa ikut Ujian Nasional (UN),” terangnya.

Aktivitas tambang pasir di sekitaran pulau kodingareng sepanjang tahun 2020, benar-benar membuat nelayan kewalahan. Sehingga, kata Amin, berpengaruh terhadap pendidikan anak-anak di Kodingareng.

“Orang tua murid mengatakan kepada kami, mereka tidak bisa membayar uang sekolah karena mereka tidak bisa melaut, selama adanya aktifitas penambangan pasir laut. Mereka tidak punya ikan untuk dijual. Karena tidak ada hasil tangkapan ikan,” sebutnya.(Efrat)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button