Tak Seperti Otomotif, Properti Sulsel Masih Babak-belur Dihantam Resesi

 

Baaca.id, MAKASSAR – Industri otomotif mulai bergerak naik setelah berbagai stimulus digulirkan. Tapi sektor properti tetap saja morat-marit akibat resesi sejak November silam.

“Ini masih efek resesi. Secara transaksi memang penurunannya signifikan dalam 8 bulan terakhir. Terutama pada properti skala menengah,” ujar Benyamin Halim, konsultan properti Sulsel kepada Baaca.id, Selasa (17/8/2021).

Bunyamin menyebutkan, ada perbedaan antara properti dan otomotif. Otomotif cenderung lebih cepat bangkit karena tingkat kebutuhan yang lebih besar.

Sementara investasi properti lebih terkesan melambat karena berbagai faktor. Salah satunya kata Bunyamin, tidak banyak stimulus yang mengiringi di sektor pemasaran.

“Beda dengan otomotif ada berbagai kelunakan dalam penjualan. Saya kira dari sisi perbankan ada sedikit kerumitan untuk kepemilikan properti. Beda otomotif, lebih simpel,” paparnya.

Zaenal Abidin, pengusaha real estate menilai masyarakat masih memilih menahan dana mereka di tengah situasi pandemi yang tak menentu. Akibatnya, properti skala menengah belum dilirik.

“Saya kira ada harapan untuk membaik di akhir tahun. Yang penting situasi pandemi membaik,” katanya.

Namun, ini semua butuh dukungan regulasi. Regulasi harus benar benar mendukung kebangkitan sektor properti.

Para ekonom juga meramal Indonesia akan sulit memulihkan kinerja ekonomi hingga kuartal akhir 2021. Proyeksi pertumbuhan ekonomi masih akandi bawah rata rata karena sektor sektor penyangga ekonomi belum normal.

“Industri masih terseok-seok. Kontraksi ekonomi juga masih memukul semua sektor. Jadi akan sulit untuk pulih kurang dari setahun,” ujar pengamat ekonomi Sjamsul Ridjal.

Sjamsul memprediksi ekonomi akan membaik paling cepat pada kuartal akhir 2021. Namun itu sangat bergantung pada kebijakan multisektor. Kebijakan ini yang bisa mengembalikan daya beli masyarakat yang turun tajam dalam 6 bulan.

“Investasi kita melempem. Industri masih terseok-seok. Hanya sektor jasa yang sekarang sedikit tumbuh. Stimulus masih dibutuhkan,” katanya.

Dikatakan Sjamsul, relaksasi KPR untuk sektor properti belum banyak memberi sentuhan. Ini juga butuh proses panjang. Dampaknya memungkinkan terlihat pada awal 2022.



Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button