Tanjung Pallette, Pesona Wisata Alam yang Menyimpan Misteri

Baaca.id — Tanjung Pallette merupakan kawasan wisata terkenal yang terletak di kelurahan Pallette, 12 km dari kota Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Pejalanan ke tempat ini sekitar 30 menit dari kota Watampone.

Sepanjang jalan menuju Tanjung Pallette, Anda akan disuguhi dengan pemandangan alam yang indah laut lepas Teluk Bone.

Pepohonan yang rindang dan angin sepoi-sepoi yang cocok untuk Anda yang ingin bersantai dan sejenak meninggalkan lelahnya rutinitas biasanya. Ditambah lagi, pemandangan laut lepas berwarna biru dapat memanjakan mata siapa saja yang melihatnya.

Dikutip dari berbagai sumber, Tanjung yang berhadapan langsung dengan teluk Bone tersebut, telah tertata rapi dilengkapi dengan panorama alam yang memukau. Tak seperti pantai pada umumnya yang menawarkan keindahan pasir putih. Namun tempat wisata ini memiliki khas tersendiri.

Tumbuhan rindang diatas bukit karang serta tebing yang dihiasi akar pohon, memberikan suatu nuansa yang berbeda. Pemandangan deburan ombak yang menghantam bukit karang yang terjal, seakan menghilangkan rasa penat Anda setelah beraktifitas selama satu pekan.

Selain itu, Anda juga bisa menikmati aktivitas nelayan, petani rumput laut bahkan dari tempat ini Anda bisa melihat dari jauh Pelabuhan Bajoe yang panjangnya 3 (tiga) km menjorok ke laut.

Disini Anda juga bisa menikmati fasilitas lain dermaga, kolam renang, penginapan, lapangan tenis, area memancing dan rumah makan.

Terdapat pula dermaga dan gazebo yang bisa dijadikan tempat untuk sekadar duduk menikmati pemandangan bukit karang dan hembusan angin laut. Untuk sampai ke dermaga hanya perlu menuruni tangga batu setinggi kira-kira lima meter.

Sementara itu, gazebo yang terletak di atas bukit, bisa menjadi tempat yang berkesan untuk menyaksikan matahari yang terbenam.

Fasilitas kolam renang sendiri berukuran cukup luas terletak atas bukit dengan pemandangan langsung mengarah ke laut. Anda bisa berenang atau bermain air sepuasnya sambil menikmati pemandangan laut yang ada di depan.

Selain menyajikan pemandangan alam, wisatawan dapat menikmati wahana water park yang telah diresmikan pada 2017 lalu.

Untuk masuk ke water park, wisatawan hanya harus merogoh kantong Rp 20 ribu per orang. Sedangkan biaya masuk ke Tanjung Pallette sebesar Rp 5.000 per orang.

Baca Juga:

Tanjung Pallette Bekas Tempat Menenggelamkan Orang

Di balik keindahan pemandangannya, ternyata Tanjung Pallette memiliki cerita rakyat turun temurun.

Konon, pada masa kerajaan tempat ini menjadi tempat Mallabu Tau yang dalam bahasa Bugis berarti tempat menenggelamkan orang.

Ada masa kerajaan Bone, Tanjung Pallette ini menjadi lokasi untuk menenggelamkan orang-orang yang melakukan pelanggaran yang berat yaitu melakukan perselingkuhan.

Mereka yang telah berkeluarga namun berselingkuh akan diikat bersama lalu kemudian dibuang dengan cara memasukkannya ke dalam karung dan mengikatkannya dengan batu, kemudian membuangnya kelaut sampai mati.

Colle (78) seorang veteran pejuang Gerilya, dikutip dari bugiswisata.com menuturkan, “Orang di masukkan dalam karung dan di Pasisio (diikat) dengan batu, dan dibuang ke Laut sampai mati, dan dibiarkan  terus tenggelam dalam laut tanpa diangkat dan dimakamkan.”

Hal yang sama jga diungkapkan Samade (83) warga desa Kading kecamatan Awangpone, bahwa perselingkuhan memang merupakan perbuatan yang tercelah, bahkan perbuatan yang terkutuk di tanah Bugis, sehingga hukuman itu merupakan hukuman yang setimpal ditanah bugis dengan cara di Laburang (ditenggelamkan) di Pallette.

Mappangaddi merupakan sifat tercelah dan terkutuk di Tana Ogi, oleh karena itu hukuman itu merupakan hukuman yang wajar bagi mereka.

Samade mengaku, kalau sekarang hukum itu tidak berlaku lagi, karena kita sudah punya tatanan hukum dari pemerintah, dan sebagai warga negara yang baik kita harus taat terhadap hukum itu.

Namun kini tempat tersebut jauh dari kesan mistis atau menyeramkan. Tanjung Pallette kini hadir sebagai tempat wisata yang indah namun bisa dinikmati dengan harga yang terjangkau.

Bagi Anda yang ingin berkunjung, tempat ini sudah dibuka kembali setelah tiga bulan tutup karena pandemi Covid-19.

Namun, ketika berkunjung harus tetap menerapkan protokol kesehatan yang ada. Seperti menggunakan masker dan selalu mencuci tangan. Jika didapati pengunjung tidak memakai masker, maka tidak diizinkan masuk ke obyek wisata.

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button