Video Pria di Sukabumi Injak Al-Quran Ternyata Direkam Sejak 2020 Tapi Diupload 2022

BAACA.ID – Sejumlah fakta mengenai kasus video pria yang menginjak Al-Quran dan menantang kaum muslim terus terkuat. Terbaru keterangan polisi menyebut video tersebut sudah ada sejak 2020 namun baru diupload di tahun 2022 .

Hal ini diungkapkan oleh Kapolres Sukabumi Kota, AKBP SY Zainal Abidin kepada wartawan di Mapolres Sukabumi, Kamis (5/5/2022). Berdasarkan pemeriksaan, Ia mengatakan pelaku yang berinisial CER (25 tahun) membuat video tersebut karena disuruh oleh istrinya yang berinisial SL (24).

“Dari hasil penyelidikan, didapat modus operandi dari pelaku dimana dasar pembuatan video kurang harmonisnya hubungan rumah tangga,” katanya.

Kronologinya yaitu sang suami diketahui sering meninggalkan istrinya tanpa alasan jelas, sehingga istri merasa kesal atas tindakan tersebut. Lalu meminta suaminya mengambil sumpah di bawah Al-Quran, tetapi perilaku tersebut tetap berulang.

Merasa tak terima, sang istri pun meminta suaminya membuat video sebagaimana yang beredar viral kemarin. Dalam video tersebut sang suami menyampaikan kata-kata yang mengganggu ketertiban lalu menginjak Alquran dan yang mengambil atau merekam video adalah istrinya.

Mereka merekam kejadian itu pada 2020 yang disimpan oleh sang istri sebagai ancaman agar suaminya tidak berkelakuan buruk lagi. Tetapi, pada Rabu lalu-saat liburan di Palabuha Ratu-mereka kembali ribut. Kemudian video yang disimpan di HP istri diupload di akun medsos oleh istrinya.

“Penyampaian dari istri bahwa dia memiliki akses media sosial ke akun suaminya, sehingga kapan saja istri bisa untuk upload,” katanya.

Baca Juga:

Selanjutnya video yang menjadi viral ini akhirnya dihapus. Sehingga pihak kepolisian hanya menjadikan handphone adroid Oppo milik sang istri SL sebagai barang bukti.

Lebih lanjut, Zainal mengatakan kasus tersebut memenuhi memenuhi unsur Pasal 28 ayat 2 Jo Pasal 45A ayat 2 Undang Undang Nomor 19 tahun 2016 yang merupakan perubahan atas UU Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara. Selain itu Pasal 156A KUHPidana tentang penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia ancaman 5 tahun penjara.

Serta dari hasil pendalaman kedua tersangka beragama Islam, namun pemahaman agama cukup dangkal. Sehingga, istri mengatur skenario melakukan hal demikian penodaan Islam dan dituruti suaminya. Hal ini sebagai ancaman agar suami tidak meninggalkan istri.



Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button