Waspada! Covid Varian Baru Telah Menyebar ke 39 Negara

Corona Varian Mu

Baaca.id — WHO memasukkan corona varian Mu yang juga disebut dengan corona B1.621 ke dalam daftar “varian of interest” setelah terdeteksi di 39 negara. Covid varian Mu ini disebut memiliki tipe mutasi yang membuatnya sedikit lebih kebal dari imunitas yang terbentuk pasca imunisasi.

Dari data penelitian awal, varian Mu dikatakan dapat menghindar dari pertahanan imun sama seperti varian Beta terdahulu. Namun WHO mengatakan bahwa penelitian lebih lanjut harus dilaksanakan untuk memastikan hal ini.

Dilansir dari The Guardian, Corona varian Mu pertama kali ditemukan di Kolombia pada Januari 2021. Sejak saat itu kasus penyebaran varian ini terus berkembang di negara-negara lain.

Di luar Amerika Latin sendiri, kasus dari varian Mu ini sudah ditemukan di Britania Raya, Eropa, Amerika Serikat, serta Hongkong.

Ilmuwan dan ahli kesehatan masyarakat kini masih menyelidiki apakah varian Mu ini lebih cepat menyebar dan menimbulkan kerusakan yang lebih parah jika dibandingkan dengan varian Delta yang saat ini masih dominan di dunia, termasuk Indonesia.

“Epidemiologi varian Mu yang ditemukan di Amerika Latin, khususnya hubungannya dengan varian Delta masih akan dimonitor perkembangannya,” sebut buletin dari WHO.

WHO: Corona Varian Mu Bisa Kebal Vaksin

Dalam laporan PBB, WHO memperingatkan negara-negara akan bahaya dari Corona varian Mu yang diduga bisa kebal vaksin. Varian ini dengan cepat merebak di wilayah Amerika Latin khususnya negara Kolombia dan Ekuador.

Varian Mu adalah varian kelima yang dimonitor WHO sejak Maret 2021. Varian ini disebut lebih kebal terhadap vaksin dikarenakan adanya mutasi. Namun otoritas kesehatan global ini juga mengatakan bahwa riset lebih lanjut terus dilakukan untuk memastikan kebenaran dari asumsi ini.

Secara global, varian Mu ini hanya menyumbang 0.1 persen dari total kasus akibat Covid-19, namun angka ini terus bertambah hingga mencapai 39 persen di Kolombia. Pandemi di negara ini sendiri telah merenggut paling tidak 124.811 jiwa.

WHO mengimbau agar negara-negara lebih berhati-hati terhadap varian baru ini mengingat masih rendahnya kapasitas riset epidemi di banyak negara masih rendah. (*)



Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button